Bali: Surga Bagi Monster Seks Pemangsa Anak?

BINTANGNEWS.com – Bali, surga bagi mereka yang berlibur, juga menjadi ‘surga bagi pedofil’, itulah peringatan para aktivis hak dan pengacara
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembisa menyatakan akan menurunkan tim untuk melakukan razia di lokasi-lokasi yang rentan bagi anak-anak.
Saat ini, di pengadilan Negeri Denpasar, Bali, seorang pria Australia berusia 70 tahun diadili dengan dakwaan melakukan pelecehan seksual terhadap 11 anak perempuan di bawah umur.
Menteri Yohana Yembisa mengatakan kepada Reuters, “Kementerian kami di bekerja sama dengan polisi di daerah untuk melakukan razia di beberapa tempat yang kami anggap lokasi dengan resiko besar bagi anak-anak untuk menjadi korban,” katanya.
Lebih jauh, kepada BBC, Deputi Bidang Perlindungan Anak di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, tim kementerian akan datang ke Bali minggu depan untuk mengkordinasikan razia di area-area yang berisiko besar.

Melecehkan 11 bocah perempuan

Hari-hari ini, Bali menjadi sorotan, terkait persidangan Robert Ellis, pria 70 tahun asal Australia, yang dituduh melecehkan setidaknya 11 anak perempuan dibawah umur.
Jaksa mendakwa pria kelahiran Melbourne ini menjebak anak-anak perempuan untuk masuk ke kamarnya di Tabanan, sekitar Kuta, dengan iming-iming hadiah sejak 2014 hingga 2015.
Seperti terungkap di sidang, Ellis disebut memberi masing-masing korban sebesar Rp 100.000 hingga Rp 300.000 setelah mengantarkan mereka ke rumah mereka.
“Saya menerima pakaian, namun ketika dia (tersangka) ingin memberi saya obat-obatan, saya tolak,” kata bocah berinisial S yang bekerja sebagai pengangkut barang di sebuah pasar setempat.
Seorang pengacara asal Bali berkata meski kasus ini mengejutkan namun bukan hal yang jarang terjadi.
“Saya menangani banyak kasus korban pedofilia dan pelecehan anak yang tidak kunjung berhenti sejak tahun 2011. Saya sangat sedih oleh karenanya, lihatlah Bali sekarang, ini telah menjadi surga para pedofilia,” kata Siti Sapurah, seorang pengacara dan aktivis yang banyak bekerja di kasus-kasus terkait anak di Bali.
“Seperti yang saya lihat, Bali tidak memperhatikan usaha melindungi anak-anak setempat. Jika kita berkeliling pulau, kita dapat melihat banyak anak berkeliaran di jalanan. Mereka diajak naik bis untuk turis dan kemudian dibawa ke hotel untuk dipedaya oleh orang asing. Kita diam dan negara tidak menolong,” katanya kepada Reuters.

Perlu proaktif

Para pegiat berkata kemiskinan dan kurangnya pendidikan adalah faktor utama yang membuat ana-anak gampang jadi korban eksploitasi.
Menurut mereka, penegak hukum harus lebih aktif bertindak.
“Para penegak hukum perlu lebih proaktif karena banyak kasus yang korbannya anak-anak tidak dilaporkan karena para orang tua malu akan apa yang terjadi,” kata Anto Sudaryanto, Country Director Terres Des Hommes , LSM internasional yang bergerak dalam upaya perlindungan anak.
Pribudiarta Nur Sitepu, deputi Pengawasan Anak, juga berkata hal serupa.
"Kalau penegakan hukum baik, dan kita bekerja bersama, itu lebih mudah untuk diatasi," katanya.
"Sekarang harus didorong adanya pendidikan seksual yang baik untuk anak," tambahnya.

Dalam perkiraan Terres Des Hommes, ada 40.000 hingga 70.000 anak-anak di Indonesia menjadi korban eksploitasi seksual.
Kawasan tujuan wisata seperti Bali, Lombok dan Batam adalah kawasan yang beresiko besar.

Tersangka lain

Robert Ellis, terdakwa pemerkosa 11 bocah yang telah ditahan sejak Januari tahun ini, diancam hukuman 15 tahun penjara jika dinyatakan bersalah.
Kepolisian Bali berkata mereka sedang mengejar beberapa tersangka terkait kasus ini, namun tak menyebutkan kewarganegaraan para buronan ini.
Persidangan Robert Ellis akan dilanjutkan minggu depan.
Seorang anak berusia 15 tahun, salah satu terduga korban berkata dia sangat bahagia Robert Ellis tak lagi berkeliaran di jalanan.
“Saya lega,” kata terduga korban yang berinisial P. “Sekarang saya bebas, tidak akan lagi dijemput oleh dia,” katanya.(boy)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di Twitter @Bintangnews.com

Sumber: Sindonews

Related News

No comments:

Leave a Reply