Pertarungan Bergengsi SBY dan Megawati di Pilgub DKI

BINTANGNEWS.com – Partai yang tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan akan menggelar pertemuan di kediaman mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas malam ini. Pertemuan ini direncanakan akan melahirkan calon yang bakal diusung untuk melawan Gubernur pejawat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Namun menariknya, bukan sekadar siapa yang akan menantang Ahok? Tapi siapa di belakang layar pertarungan politik ini.
Sudah bukan rahasia umum, Cikeas merupakan kediaman penting saat Presiden SBY masih menjabat. Rapat genting atau keputusanreshuffle sering kali keluar dari sana. Pertemuan-pertemuan petinggi parpol juga kerap dilaksanakan di Cikeas saat SBY memerintah.

Karena itu, rapat di Cikeas ini bukan sekadar pertarungan politik antara pendukung atau lawan Ahok. Lebih dari itu, ini merupakan pertaruhan gengsi lama, antara SBY dan Megawati. SBY di kubu non-Ahok, sebaliknya, Megawati mendukung Ahok.

Sebagaimana diberitakan, pada malam sebelumnya, Megawati Soekarnoputri mengundang Ahok ke kediamannya di Teuku Umar. Ahok pun diajak makan malam bersama oleh Mega. Tak lama setelah itu, PDIP mengumumkan Ahok dan Djarot sebagai pasangan dalam Pilgub DKI 2017. Megawati bahkan turut mengantar Ahok saat pendaftaran ke KPU.
 
Menurut kandidat calon gubernur dari Koalisi Kekeluargaan, Sandiaga Uno, keterlibatan SBY dalam pertemuan antara pemimpin Koalisi Kekeluargaan adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Presiden RI keenam tersebut. "Kita berikan penghormatan kepada Pak SBY untuk ikut urun rembuk, karena beliau punya pemikiran untuk Jakarta ke depan. Masukan dan nasihat beliau tentu akan jadi bahan pertimbangan bagi kami untuk menentukan langkah," tutur Sandiaga.
Sudah bukan rahasia umum, hubungan antara SBY dan Megawati tak terlalu akur sejak 2004. Kondisi itu terjadi setelah SBY berhasil mengalahkan Megawati dalam pemilihan presiden.  Padahal, SBY sempat bergabung dalam kabinet Mega, sebelum akhirnya mundur. Kondisi itu ditambah dengan sikap Mega yang menegaskan beroposisi dengan pemerintahan SBY.

Sejak saat itu terhitung sangat jarang, SBY berjabat tangan atau bertatap muka dengan Megawati. Kalaupun jabat tangan, keduanya terlihat dingin, seperti saat debat capres pada 2009. Di zaman SBY, Megawati juga tak pernah terlihat dalam acara-acara kenegaraan, seperti upacara 17 Agustus di Istana Kepresidenan. 

Hal itu kontras dengan yang terjadi saat ini. Di era Presiden Joko Widodo, Megawati berulangkali tampil di Istana. Dia juga hadir dalam Upacara 17 Agustus. Sementara SBY memilih absen dan banyak aktif di luar.

Pakar politik LIPI, Fachry Ali, pernah memiliki pengalaman sendiri terkait kenapa Megawati tidak mau bertemu Presiden SBY. Dalam sebuah pertemuan pada 2009, Fachry sempat bertemu langsung dengan Megawati. Kemudian pakar politik LIPI ini menanyakan Mega, kenapa tidak mau bertemu SBY.

Alah kamu tahu sendiri,” ujar Mega, sebagaimana dituturkan Fachry, dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV swasta.

Kini SBY dan Megawati kembali bertemu, bukan dalam pilpres, tapi memperebutkan kursi DKI I. Kelihaian politik SBY kembali diuji di sini, melawan Megawati yang menurut banyak survei sedang berada di atas angin.

Siapa yang akan menang? Akankah SBY kembali berjabat tangan dengan Megawati? Kita tunggu cerita selanjutnya.(jon)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di Twitter @Bintangnews.com

sumber: Rol


Related News

No comments:

Leave a Reply