Aksi Premanisme di Yogyakarta Tinggi, Ini Penyebabnya

BINTANGNEWS.com – Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada Agus Heruanto Hadna mengatakan tingginya aksi premanisme di Yogyakarta dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di daerah itu.

"Tingginya indeks potensi konflik yang bersumber dari premanisme di Yogyakarta diduga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi," kata Hadna, di Yogyakarta, Jumat (7/10).
Hadna mengatakan berdasarkan hasil Studi Perubahan Sosial dan Potensi Konflik yang dilakukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM pada 2013 dan 2016 menunjukkan sebagian besar masyarakat menilai aksi-aksi kekerasan oleh kelompok atau premanisme di Yogyakarta mengalami peningkatan yang signifikan selama periode waktu tersebut.

Dari total jumlah responden 7.752 orang, sebanyak 50,48 persen memiliki persepsi bahwa aksi-aksi premanisme meningkat semenjak tahun 2013 hingga 2016. Peningkatan tersebut terutama dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kota Yogyakarta.

"Indeks potensi konflik yang bersumber dari aksi premanisme meningkat di wilayah Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Untuk Kulon Progo indeksnya tetap, sedangkan Gunungkidul indeksnya turun," kata dia.

Hadna mengatakan kemungkinan tingginya potensi konflik yang bersumber dari premanisme berkaitan denhan pertumbuhan ekonomi Yogyakarta yang juga naik.
Data Badan Pusat Statistik DIY menunjukkan pertumbuhan ekonomi Kota Yogyakarta pada 2012 tertinggi di DIY, yakni 5,76 persen yang disusul kemudian oleh Sleman (5,45 persen) dan Bantul (5,34 persen).
"Kota Yogyakarta, Sleman, maupun Bantul merupakan wilayah dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi," kata dia.


Pertumbuhan ekonomi, menurut dia, mendorong terjadinya transformasi sosial budaya yang ditandai dengan bergesernya nilai-nilai dari model masyarakat yang Gemeinschaft menuju masyarakat Gesselschaft. Pada model masyarakat yang disebut terakhir ini nilai-nilai kekerabatan menjadi longgar dan diganti dengan nilai-nilai transaksional.

"Di satu sisi diduga ada motif-motif ekonomi yang melatarbelakangi munculnya tindak premanisme karena perebutan sumber daya ekonomi yang terbatas," kata dia.

Dengan demikian, Hadna menyarankan perlunya pertumbuhan ekonomi yang mengedepankan kepentingan rakyat banyak. Perhatian terhadap wilayah perdesaan menjadi penting karena angka kemiskinan di perdesaan (16,63 persen) lebih tinggi ketimbang di perkotaan (11,79 persen) pada Maret 2016.
"Basis-basis ekonomi harus tersebar merata tidak hanya di perkotaan tetapi juga sampai pada tingkat perdesaan," kata dia.(bens)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Sumber: Rol






Related News

No comments:

Leave a Reply