Menolak Jilbab, Pecatur Perempuan Boikot Kejuaraan Catur Dunia di Iran

BINTANGNEWS.com – Nazi Paikidze-Barnes, seorang pecatur dunia yang berusia 22 tahun, memboikot kompetisi Kejuaraan Catur Dunia di Iran yang akan digelar tahun depan.
"Saya pikir Iran tidak layak menjadi tuan rumah kejuaraan dunia catur perempuan, karena di negara itu perempuan tidak memiliki hak-hak dasar dan mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua," katanya.
Di Iran, perempuan secara hukum diharuskan mengenakan hijab atau jilbab.
Nazi mengatakan dia tidak akan memakai jilbab yang disebutnya sebagai bentuk 'dukungan terhadap penindasan'.
Dia telah membuat petisi agar asosiasi catur dunia memindahkan lokasi kejuaraan ke negara lain atau membuatnya opsional bagi perempuan untuk menutupi kepala mereka.

Sikap Federasi catur dunia

Federasi catur dunia, FIDE mengatakan Iran merupakan satu-satunya negara yang telah mengajukan proposal sebagai tuan rumah dan tidak ada negara anggota lainnya yang menyatakan keberatan.
"Tidak ada keluhan dari pemain atau pejabat dan semua orang menghormati hukum suatu negara, termasuk persyaratan soal pakaian," kata FIDE dalam keterangan resminya.
Memang tidak semua pemain catur setuju dengan ide boikot, dan beberapa mengatakan hal itu dapat merusak upaya mempromosikan olahraga bagi kaum perempuan di Iran.
Mitra Hejazipour, seorang grandmaster berusia 23 tahun dari Teheran, mengatakan kepada Guardian: "Kejuaraan itu akan menjadi yang momen olah raga terbesar bagi kaum perempuan di Iran yang pernah saya lihat. Di masa lalu, kami belum bisa menjadi tuan rumah setiap kejuaraan dunia di bidang olahraga lainnya untuk kaum perempuan.

"Saya kira tidak tepat untuk menyerukan boikot. Kejuaraan ini penting bagi kaum perempuan di Iran. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kekuatan kami," tegasnya.
Sejak mengungkapkan rencananya untuk memboikot acara tersebut, Nazi telah dihujani kritik yang isinya menyebut dirinya tidak mengerti budaya Islam dan masyarakat Iran.
"Saya tidak anti-Islam atau agama lain. Saya berdiri untuk kebebasan beragama dan keyakinan," kata Nazi.
"Saya memprotes keputusan FIDE bukan karena agama atau orang Iran, namun undang-undang pemerintah yang membatasi hak-hak saya sebagai seorang perempuan."

Komentar pecatur India dan Inggris

Sementara itu, pecatur Inggris, Nigel Short menulis dalam akun tweeter miliknya bahwa dirinya mendukung kampanye Nazi Paikidze-Barnes.
Nazi lahir di Rusia dan dibesarkan di Georgia, tempat catur merupakan permainan yang umum di negara itu.
Dia sekarang tinggal di Las Vegas dan bersaing untuk menjadi pemain Amerika Serikat.
Dua nama besar di dunia percaturan perempuan dunia, Humpy Koneru dan Harika Dronavalli, yang berasal dari India, menceritakan pengalaman mereka bermain catur di Iran.

"Selama beberapa hari itu sedikit canggung bermain catur dengan mengenakan jilbab, namun perlahan-lahan saya menjadi terbiasa. Saya merasa kami harus menghormati budaya dan adat istiadat mereka," kata Humpy kepada situsChessBase India.
Dalam artikel yang sama, Harika mengatakan: "Tentu saja, tidak nyaman bermain catur dengan mengenakan jilbab, tapi bagi saya yang paling penting adalah momen kejuaraan dunia itu sendiri. Sehingga di mana pun itu digelar, itu bukan urusan saya."(win)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Sumber: BBC


Related News

No comments:

Leave a Reply