Teka-teki Mengerikan di Balik Topeng Tengkorak

BINTANGNEWS.com – Topeng tengkorak mengingatkan kritikus seni Kelly Grovier akan penyamaran yang membuat kita mempertanyakan jati diri kita.
“Orang tidak sepenuhnya menjadi dirinya,” kata Oscar Wilde, 125 tahun lalu, “ketika ia bicara atas nama dirinya sendiri. Berikan ia topeng, maka ia akan mengatakan kebenaran.”
Akan tetapi bagaimana jika kebenaran yang diungkap itu ialah di balik topeng ada lebih banyak topeng, begitu terus sampai kita menemukan topeng paling menakutkan? “Topeng di balik topeng,” seperti dibayangkan Salman Rushdie dalam novelnya Ayat-Ayat Setan “hingga tiba-tiba tersingkaplah tengkorak yang pucat.”
Teka-teki mengerikan topeng tengkorak yang menutupi tengkorak kembali mengemuka beberapa bulan lalu dengan dua berita dari belahan dunia yang berseberangan, yang tampaknya tidak berhubungan satu sama lain namun kebetulan terjadi bersamaan.
Ketika siswa sekolah di kota Zibo, Cina merayakan Hari Antitembakau Sedunia dengan menutupi wajah mereka dengan topeng tengkorak yang sedang merokok, sekelompok peneliti di University of Montana mengumumkan bahwa mereka telah memecahkan misteri di balik delapan topeng Aztec yang terbuat dari tengkorak manusia, yang maknanya telah mengherankan para arkeolog sejak mereka menemukannya tiga dekade lalu.
Pemeriksaan forensik tempurung kepala dari abad 15 itu mengungkap bahwa topeng menyeramkan itu kemungkinan dibuat dari tengkorak prajurit yang kalah perang atau dari mayat kalangan bangsawan yang mengkhianati kaisar Axayactl, yang berkuasa dari 1468 hingga 1481.

Seperti tengkorak merokok yang, secara ironis, digunakan siswa di Cina untuk mengingatkan kawan mereka akan bahaya rokok, sisa-sisa jenazah di Mexico yang ‘dihidupkan’ kembali pun mungkin dimaksudkan sebagai peringatan bagi siapapun yang membahayakan nyawanya sendiri, dalam hal ini berkhianat kepada raja.
Citra masyarakat sebagai pesta topeng tengkorak, dengan lapisan tipis keramahtamahan palsu yang dapat dilucuti dengan mudah, mengingatkan saya akan karya seni modern yang lebih menyeramkan.
Sejak kecil terobesesi dengan topeng sirkus yang dijual orang tuanya di toko cendera mata, seniman Anglo-Belgia James Ensor melihat masyarakat sebagai parade tubuh: aneh dan menyeringai, cacat dan sakit.
Dalam lukisannya tahun 1888, Topeng-Topeng Mengejek Kematian, Ensor menciptakan kembali untuk era baru visi gelap Hieronymus Bosch, yang melihat borok di balik selimut kehormatan sosial.
Segala upaya untuk memisahkan orang bertopeng dari topengnya di lukisan Ensor, sekadar mengungkap lapisan baru penipuan dan penyamaran.(boy)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Sumber: BBC


Related News

No comments:

Leave a Reply