Mereka-reka Kebijakan Donald Trump Atas Korea Utara

BINTANGNEWS.com – Tidak biasanya media Korea Utara kehilangan kata-kata. Corong pemimpin agung negara tersebut, sejauh ini hanya sedikit memberitakan presiden terpilih Amerika Serikat yang ke-45, Donald Trump.
Mungkin, sama seperti di belahan dunia lainnya, Kim Jong-un dan beberapa yang dekat dengan Trump, tidak pernah menduga kemenangannya sehingga retorikanya disiapkan untuk Presiden Barack Obama yang akan menyingkir dan yang diperkirakan jadi penerusnya.
Maka Obama adalah 'monyet hitam yang jahat' sedangkan Hillary Clinton sebagai 'pensiunan yang pergi belanja'. Harap diingat bahwa kepatutan politik masih belum mencapai Republik Rakyat Korea, atau Korea Utara.
Siapa pun presidennya -merujuk Obama dan Clinton- mencerminkan 'rezim yang gagal total' dan akan terkubur dalam 'limbah sejarah'.
Namun retorika tersebut muncul sebelum adanya pemenang resmi dalam pemilihan presiden AS.
Memang benar bahwa media pemerintah Korea Utara menyebut Trump sebagai 'politikus yang bijaksana' dan merupakan pilihan yang tepat bagi rakyat Amerika Serikat.

Pertemuan sambil makan hamburger

Bagaimanapun setelah pemungutan suara: senyap, selain satu komentar tidak langsung.
Mungkinkah Kim Jong-un bingung dengan pernyataan-pernyataan Trump pada masa kampanye? Benarkah kalau presiden terpilih AS menyebut pemimpin di Pyongyang sebagai 'pria yang buruk'.
Kim mungkin juga menangkap yang bisa dilihat sebagai sebuah tawaran perdamaian karena Trump mengatakan siap untuk bertemu dengan Kim sambil menyantap hamburger.
"Kenapa tidak? Apa yang salah dengan berbicara?" kata Trump pada Bulan Mei. "Saya tidak akan menjamu makan malam kenegaraan untuk dia. Hal yang sama juga untuk Cina dan yang lainnya, yang mencabik-cabik kita."
Tapi ngobrol sambil makan hamburger mungkin bisa diterima.
Jadi kesenyapan Pyongyang mungkin hanya karena mereka tidak tahu bagaimana membaca kata-kata Trump, dan jelas mereka tidak sendirian dalam ketidaktahuan itu.

Trump melunak

Apakah presiden terpilih akan tetap mau bertemu dengan pria yang membangun senjata nuklir untuk membuat Washington menjadi 'lautan api'?
Apakah dia tetap bersikap aneh atas Jepang dan Korea Selatan atau kemenangannya dalam pemilihan presiden mengubah kebijakannya?
Trump jelas sudah melunakkan nada pernyataannya. Sebelum pemilihan presiden, dia terdengar sinis dengan aliansi dengan Korea Selatan dan Jepang.
"Jepang lebih baik jika melindungi diri sendiri dari Korea Utara yang maniak," katanya.
Dan dalam sebuah siaran di CNN, Trump disebut mengatakan, "Kita akan lebih baik, terus terang, jika Korea Selatan melindung dirinya sendiri... mereka harus melindungi diri sendiri atau mereka harus membayar kita."
Namun para pemimpin Korea Selatan dan Jepang adalah yang pertama berbicara dengan dia setelah kemenangannya. Dan PM Jepang, Shinzo Abe, yang menjadi pemimpin dunia pertama yang bertemu Trump di Amerika Serikat.
Setelah berbicara dengan Presiden Korsel, Park Geun-hye, kantor presiden mengatakan Trump berjanji bahwa "kami akan tabah dan kuat dengan menghormati bekerja bersama Anda untuk melindungi diri dari ketidakstabilan Korea Utara."

Ancaman nuklir Korut?

Tentu kebijakan akhirnya tergantung juga pada orang-orang di sekitar Trump kelak, namun satu hal yang jelas adalah memprediksi Donald Trump.
Adapun doktrin Presiden Obama yang memperlihatkan 'kesabaran strategis' kepada Korea Utara tampak tidak berhasil karena belum ada tanda-tanda ambruknya rezim di Pyongyang.
Jadi apa yang mungkin bisa dilakukan Trump atas Kim?
Dalam sebuah wawancara TV pada bulan Februari, dia memberi indikasi bahwa Cina bisa menjadi kuncinya.
"Cina memiliki kendali, kendali sepenuhnya atas Korea Utara. Mereka tidak mengatakan hal itu namun mereka punya kendali."
"Dan mereka seharusnya membuat masalahnya menghilang."
Sekitar sebulan sebelumnya di Iowa, Trump memberi isyarat memuja Kim walaupun mengakui pemimpin itu 'edan'.
"Pria ini seperti maniak, OK? Dan Anda harus memberinya kredit."
"Seberapa banyak anak muda -dia berusia 26 atau 25 tahun ketika ayahnya wafat- memimpin jenderal-jenderal tangguh dan tiba-tiba, Anda sadar, cukup mengesankan kalau memikirkannya, Bagaimana dia melakukannya?"
Dan Trump menjawab sendiri pertanyaan retorikanya.
"Dia membasmi pamannya. Dia membasmi yang ini, yang itu. Saya pikir, pria itu tidak bermain. Dan kita tidak mau bermain dengan dia. Karena dia benar-benar punya rudal. Dan dia benar-benar punya nuklir."
Memang Kim punya rudal dan nuklir, yang semakin baik dengan ledakan lebih kuat pula. Waktu berdetak semakin cepat.(roy)
ikuti terus sumber informasi dunia di twitter @bintangnews.com
Sumber: BBC





Related News

No comments:

Leave a Reply