Para Perempuan yang Berani Membuat Komedi Seks


BINTANGNEWS.com – Dalam beberapa tahun terakhir, muncul acara-acara televisi yang eksplisit, tak sentimental, dan diceritakan dari sudut pandang perempuan. Holly Williams melihat kembali asal mula serial-serial tersebut.
Girls sudah menjadi dewasa.
Pembuat acara televisi tersebut, Lena Dunham, kini sudah berusia 30an dan musim keenam komedinya yang sarkastis dan berlatar di Brooklyn akan jadi yang terakhir.
Musim tersebut sudah dimulai di televisi AS dan dari trailernya, terlihat bahwa tetap ada banyak kegelisahan akibat kencan, kekacauan, dan menari gila-gilaan — namun juga persahabatan yang semakin erat.
Meski banyak mendapat pujian sejak debutnya pada 2012, Girls kehilangan arah beberapa kali: terlalu mustahil, terlalu sosiopat, atau terlalu sedih, seiring karakternya semakin jauh tenggelam dalam kecemasan mereka, dan tidak berubah atau menjadi dewasa.
Kadang lebih mudah mencibir ke arah Girls daripada menyemangati mereka. Tetapi, kita tetap harus banyak berterimakasih pada Dunham. Girls mengubah segalanya.
Kini kita menganggapnya biasa, tapi ingatkah bagaimana radikalnya melihat tubuh telanjang Dunham yang normal dan tak dihaluskan kemudian dipertontonkan?
Atau bahwa keempat karakter utamanya bukanlah orang yang mudah disukai, pecundang yang membuat kesal dan sering gagal?

Atau untuk menampilkan seks dan hubungan dengan cara yang canggung dan membingungkan, menggairahkan serta kotor, dan menyakitkan tapi juga lucu karena menyakitkan?.
Dunham telah melakukan pekerjaan berat menaruh fondasi dalam mengubah kebudayaan, dan membuka jalan bagi penulis perempuan lain yang juga berbicara kotor, lucu, dan sangat jujur.
Dan penting juga untuk mengingat betapa pentingnya seorang perempuan di usia 20an diizinkan menulis, memproduksi, menyutradarai dan membintangi acara televisinya sendiri. Lima tahun kemudian, hal ini bukan menjadi sesuatu yang jarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat ada serangkaian acara televisi yang tidak sentimental dan memiliki perpsektif perempuan yang kuat: acara-acara itu ditulis oleh perempuan, tentang perempuan, dibintangi oleh perempuan itu juga, dan kadang adalah tentang persahabatan antar-perempuan selain juga soal pasangan romantis.
Dunham lebih dulu ada sana, tapi juga ada Ilana Glazer dan Abbi Jacobson di Broad City, Jessica Knappett di Drifters. Inside Amy Schumer dan filmnya Trainwreck, Sharon Horgan dengan Pulling, kemudian Catastrophe, lalu Divorce (yang dibintangi oleh Sarah Jessica Parker).
Dan acara-acara seperti itu terus muncul: Fleabag dari BBC, yang dibintangi dan ditulis oleh Phoebe Waller-Bridge, adalah salah satu acara televisi terbaik di 2016 — dan menjadi hit di AS setelah diambil oleh Amazon.
Fleabag dibuka dengan adegan seks anal, dan terus menjadi semakin eksplisit, saat anti-heroinnya diputuskan oleh pacarnya karena bermasturbasi sambil melihat pidato Obama.
Di Amerika Serikat ada Insecure dari Issa Rae, acara televisi di HBO yang musim keduanya akan dimulai tahun ini.
Serial itu menceritakan Issa, seorang perempuan di akhir usia 20an, yang sedang bingung, haruskah dia memutuskan pacarnya; sementara itu teman baiknya menjalani banyak kencan buruk sampai dia khawatir "alat kelaminnya rusak" (dan Issa membawakan lagu rap khusus tentang itu di acara open mic: "mungkin terlalu kasar/atau mungkin sudah kebanyakan.")
Sementara itu Chewing Gum baru saja muncul lagi.
Komedi tanpa-saringan karya Michaela Coel mengambil tempat di sebuah rusun di London, dan mengisahkan seorang perawan Kristen taat berusia 24 tahun yang ceroboh; musim pertamanya tak malu-malu menunjukkan bagaimana konyolnya upaya Coel dan ketidaktahuannya dalam melakukan oral seks dan threesome, dan musim keduanya juga tampaknya sama vulgarnya.

'Kejujuran yang menyakitkan'

Ada banyak kesamaan yang dimiliki oleh komedi-komedi ini: perempuan muda yang tak sempurna di ambang krisis eksistensi dan keuangan, dan terombang-ambing antara usia 20an dan 30an, tak puas dan bingung dengan cinta dan persahabatan.
Pertemanan antara perempuan kadang menjadi sentral cerita tapi selalu ditunjukkan sebagai sesuatu yang kompleks dan sulit sekaligus juga menyenangkan dan penuh cinta.
Namun kejujuran perempuan-perempuan ini soal seks adalah benang merah di semua komedi ini.
Toh seks adalah hal yang lucu. Dan manusia membutuhkan tawa soal subjek itu, seperti sudah dilakukan oleh komedian pria sejak lama; dari mulai materi stand-up sampai humor jorok dari komedi 'bromantic', kita sudah banyak mendengar lelucon tentang cairan tubuh pria dan aksi di tempat tidur selama bertahun-tahun.
Namun di antara penonton perempuan, hal ini bisa memicu cemooh; ada masa pada sekitar 2000an ketika film terasa seperti sesi bercanda masturbasi yang panjang antara pria, dan karakter perempuan tak lebih dari pelengkap yang menarik di lokasi.
Meski para penulis dari komedi perempuan gelombang baru ini menggunakan slapstick dan humor jorok, namun tawa lebih sering muncul dari kejujuran mereka yang menyakitkan.
Ada keterbukaan akan apa artinya menjadi perempuan yang memiliki tubuh: masturbasi, menstruasi, aborsi, frustrasi seksual, penyakit menular seksual dan seks yang tidak enak adalah topik umum.
Tak seperti dalam komedi yang ditulis oleh laki-laki, seks, dalam serial televisi baru ini, adalah sesuatu yang diinginkan dan dinikmati dan dicari oleh perempuan (bayangkan Sharon di Catastrophe yang menaiki pasangannya sambil menangis karena hormonnya tapi juga karena sedang bernafsu) dan ini adalah sesuatu yang berantakan secara komedi dan juga canggung.
Tapi kadang sering ada emosi yang gelap di balik tawa tersebut, dengan kisah yang mengungkap betapa ketergangguan emosi perempuan sering muncul karena seks. Ini bukan hanya soal menyemangati pandangan positif soal seks, tapi juga ada nuansanya.
Lagi-lagi Girls harus dirayakan karena telah memimpin jalannya.
Acara ini berani karena membahas dikotomi yang sangat modern dan millennial: perempuan muda lebih bebas, lebih aktif secara seksual dan lebih eksperimental daripada sebelumnya — seperti terlihat dalam berbagai adegan seks yang aneh — tapi apakah mereka benar lebih "berdaya' dan menikmatinya?
Atau seks hanyalah satu cara bagi perempuan untuk menyenangkan laki-laki, dan terpaksa melakukan apa yang diharapkan dari perempuan?
Di Girls, keduanya terjadi: ada akhir pekan yang menyenangkan dengan pria-pria asing, tapi ada juga seks kasar di mana si perempuan hanya menjadi alat bagi fantasi merendahkan seorang pria.
Namun seks juga rumit, dan meski perempuan muda semakin bisa mewujudkan keinginan seksual mereka, namun acara seperti Girls juga menyoroti bahwa berusaha menyampaikan keinginan itu juga tak selalu mudah. Ada komedi dalam seks yang buruk, tapi juga ada kesedihan.

Perempuan 'tak lucu'

Mungkin salah satu bagian kejujuran yang paling menyakitkan dari Fleabag adalah cara protagonisnya menggunakan seks sebagai bentuk pengakuan.
Dia tidur dengan pria secara kompulsif, kemampuannya membuat para pria itu menginginkannya menjadi obat bagi kesedihan dan dukanya.
Bahkan ketika seks itu buruk atau tak berkesan, dia hanya menginginkan pengalih perhatian, pengakuan dari dunia luar sehingga dia tak harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Ini gelap dan rumit tapi juga benar — kebenaran yang tak pernah kita akui atau bicarakan.
Kejujuran total yang mendefinisikan karya-karya ini juga mencerminkan penciptaan kreatifnya.
Karya-karya ini seringnya sangat personal. Banyak yang mengaburkan batasan antara fiksi dan autobiografi, karakter-karakter ini ditampilkan oleh kreatornya, dan seringnya memiliki nama yang sama dengan penciptanya: Fleabag adalah nama panggilan Waller-Bridge, Sharon di Catastrophe, Issa di Insecure, Ilana dan Abbie di Broad City, Amy di Trainwreck…Tren yang terus berlanjut.
Kadang ceritanya juga diambil dari kisah nyata.
Penulis Hannah Horvath di Girls berawal sebagai proxy untuk Dunham.
Chewing Gum diambil dari latar belakang kehidupan Coel di rusun, dan penolakannya akan agama, sementara karakter Jessica Knappett di Drifters hidup di loteng suram yang harus dinaiki menggunakan tangga — sama seperti yang dulu ditinggali oleh penciptanya.
Saat menulis Catastrophe dengan Rob Delaney, Horgan memberi aturan bahwa setiap plot harus berasal dari hidup mereka sendiri, atau dari orang yang mereka kenal.

Musim terakhir Girls

Tak banyak komedi semi-autobiografi tentang pria (selain Curb Your Enthusiasm), dan perempuan-perempuan kreatif ini kadang mendapat tuduhan narsisisme.
Banyak serial ini dinilai melihat ke dalam dan berpikiran sempit, tak seorisinil atau tak seberharga serial yang dibuat lelaki.
Ada kebenaran dalam tuduhan narsisisme itu — tapi banyak dari komedi ini yang juga mengundang Anda untuk berbagi kelucuan.
Sering ada sudut pandang yang kuat: Fleabag dan Chewing Gum memecah tembok keempat untuk langsung berbicara ke penonton, dan menawarkan tanggapan keheranan atas situasi absurd atau memberi komentar soal seks saat sedang berjalan.
Sementara Insecure menggunakan alih suara dan Issa akan menyemangati dirinya sendiri dengan melakukan rap ke cermin/kamera.
Efeknya adalah untuk melibatkan penonton, menarik kita masuk; kita adalah kepercayaan mereka, partner mereka. Kita seperti mereka, kata serial televisi tersebut.
Dan itu berhasil — keunggulan dari acara-acara ini adalah kisah mereka mudah dikenali dan hanya sedikit lebih memalukan atau konyol daripada hidup kita sendiri.
Menontonnya nonstop sama halnya dengan curhat habis-habisan dengan teman Anda yang paling iseng; meski Anda mengalami akhir pekan yang buruk, mereka akan selalu punya cerita yang lebih parah tentang seks buruk atau mabuk di depan bos mereka.
Anda tertawa, mengernyit, dan tahu rasanya — dan Anda berpikir setidaknya hidup Anda tak seburuk itu…
Namun, tuduhan bahwa acara televisi ini terlalu sempit juga beralasan: apakah semua orang bisa melihat dirinya sendiri di serial ini, atau hanya perempuan muda yang terobsesi dengan dirinya sendiri, seperti saya? Girls, dan pengikutnya, sudah lama dituduh hanya menampilkan millennial yang kaya dan suka mengeluh.
Tapi bukan itu intinya — acara televisi ini menawarkan sudut pandang yang personal yang juga sangat berorentiasi gender.
Acara-acara ini memang menawarkan sudut pandang perempuan, dan ini baru satu untuk membalas beberapa dekade pria di belakang kamera.
Tentu saja baru ada sedikit perempuan ini dan acara mereka baru muncul — tapi perempuan punya banyak hal yang harus dikejar.
Perspektif perempuan sudah terlalu lama dilabeli 'tidak lucu'. Itu omong kosong, tentunya, dan televisi kini sedang memperbaikinya.
Kita sudah sangat lama tak mendapat perspektif perempuan akan seks; sudah saatnya mendengar cerita mereka. Dan jujur saja, semakin jorok, semakin baik.(bbc/tb)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply