Wilders Anti-Islam Politik Belanda 'di Bawah Ancaman'

BINTANGNEWS.com – Pemilihan umum Belanda yang akan digelar Rabu (15/03) bisa menjadi titik baru bagi warna politik negara tersebut, yang selama ini dikenal liberal dan multikultural.
Salah satu isu yang menonjol dalam kampanye pemilu kali ini adalah kaum pendatang, yang diusung oleh Partai untuk Kebebasan atau PVV, walau isu ekonominya juga tidak terabaikan.
Pemimpin PVV, Geert Wilders, yang secara terbuka menyatakan anti-Islam, sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan karena menghina satu kelompok dan memicu diskriminasi walau tidak mendapat hukuman.
Ketika memulai kampanye pada pertengahan Februari lalu, dia juga menyatakan banyak orang Maroko sebagai 'sampah'.
Dan jargon-jargon antipendatang yang didengungkan tampaknya didukung sejumlah pemilih karena beberapa jajak pendapat menempatkan PVV akan meraih suara terbesar.
Bagaimanapun tak berarti PVV akan menjadi partai yang memerintah. Kenapa? Berikut beberapa informasi terkait politik Belanda.

Parpol terbanyak

Jumlah partai politik di Belanda menjelang pemilihan umum 2017 ini merupakan yang terbanyak sejak Perang Dunia II dengan 81 partai yang terdaftar.
Namun hanya 28 partai yang memenuhi syarat untuk ikut pemilu dan itupun tetap merupakan jumlah parpol peserta pemilu terbesar di negara itu.

Dalam pemilihan umum 2012 lalu, misalnya, hanya 21 partai politik yang ikut pemilihan umum.
Para partai politik yang jumlahnya 28 tersebut akan bersaing memperebutkan 150 anggota dewan perwakilan rakyat atau De Tweede Kamer.
Banyaknya partai politik peserta pemilu yang merebut 150 kursi parlemen membuat kecil kemungkinan satu partai berhasil merebut jumlah kursi di parlemen secara mayoritas atau sebutlah sedikitnya merebut 76 kursi.
Partai-partai utama sekalipun biasanya merebut sekitar 30 hingga 40 kursi sehingga tidak cukup untuk bisa langsung menjadi partai yang memerintah.
Dan selama ini pemerintah Belanda memang merupakan bentukan koalisi dari beberapa partai.

Kebangkitan isu pendatang

Jumlah pencari suara di Belanda -menurut laporan Layanan Imigrasi dan Naturalisasi Belanda pada pertengahan Januari 2017- sebenarnya menurun hampir setengah pada tahun 2016.
Sepanjang tahun 2015 tercatat 58.900 pencari suaka yang menurun menjadi 31.600 pada tahun 2016, antara lain karena tercapainya kesepakatan pengungsi antara Uni Eropa dengan Turki serta ditutupnya beberapa rute di Balka untuk masuk ke Eropa.

Geert Wilders

dan Partai Kebebasan (PVV)

12
kursi dari 150 kursi parlemen Belanda
35
kursi seperti diperkirakan jajak pendapat terbaru
·         3 juta pemilih Belanda akan mendukung PVV, menurut bveberapa jajak pendapat
TNS-Nipo
Adapun jumlah warga yang memiliki latar belakang pendatang di Belanda pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 3,7 juta jiwa dari total 17 juta atau sekitar 22%.
Masuknya para pendatang dalam tahun-tahun terakhir, yang umumnya dari Timur Tengah serta Afrika- sebenarnya relatif kecil dibandingkan dengan komunitas pendatang yang selama ini sudah tinggal di Belanda.
Menurut Sam Pormes, anggota Majelis Tinggi Parlemen Belanda, para ahli politik dan sosial berpendapat bahwa meningkatnya isu pendatang antara lain didorong oleh penurunan ekonomi akibat krisis keuangan dunia serta meningkatnya pengungsi yang -karena krisis politik di Irak, Afghanistan, Suriah, dan Somalia- hampir semua beragama Islam.
Namun Pormes mengatakan sebenarnya sentimen antipendatang sudah ada sejak dulu di Belanda.
"Kalau kita melihat mereka memegang koloni sampai tahun 1945 habis itu perang kolonial sampai tahun 1949, dari dulu penjajah. Kemudian waktu Nazi Jerman memegang Belanda, ternyata perlawanan terhadap rasisme Hitler tidak pernah besar."
"Jadi budaya mereka itu sudah seperti Wilders tapi tidak terbuka, selalu tersembunyi di semua partai."
"Sekarang kondisi politik makin hari makin terbuka, orang bisa bilang apa saja. Orang berani menyatakan mereka benci orang hitam, mereka benci Islam, sekarang semua terbuka. Dulu tidak pernah begitu dan bukan berarti tidak ada. Saya punya pikiran begitu," jelas Pormes, yang masih fasih berbahasa Indonesia.

Warga (asal) Indonesia di Belanda

Data tahun 2007 memperlihatkan warga keturunan Indonesia di Belanda mencapai sekitar 390.000 dengan generasi pertama sekitar 126.000 jiwa, seperti yang terlihat dr badan statistik Belanda CBS.
Awal imigrasi besar warga Indonesia ke Belanda terjadi sekitar tahun 1950-an, setelah berdirinya Republik Maluku Selatan, RMS, yang dianggap sebagai kelompok pemberontak oleh pemerintah Indonesia.
Karena itu banyak orang Maluku pro-Belanda maupun RMS mengajukan permohonan mengungsi ke Belanda dengan alasan terancam keselamatannya dan Belanda menyanggupi dengan sekitar 12.500 orang dibawa ke Belanda, yang menjadi cikal bakal dari komunitas etnik Indonesia di Belanda.
Dalam perkembanganya, warga keturunan Indonesia di Belanda membaur dengan warga setempat, baik menjadi pegawai negeri, pengusaha, pemain sepak bola, bahkan politisi, seperti Sam Pormes yang lahir di Belanda dan pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Parlemen Belanda selama enam tahun.

Jika kita, Belanda, tiba-tiba menjadi rasis karena ingin Suertepit tetap menjadi hitam... jika kita menjual kebebasan berbicara, maka negara yang indah ini akan terkutuk.”
Geert Wilders
Meningkatnya sentimen antipendatang belakangan ini di Belanda sepertinya tidak membuat warga keturunan Indonesia menjadi khawatir.
Aboeprijadi Santoso, mantan wartawan Radio Hilversum yang tinggal di Belanda, mengamati bahwa Indonesia tidak pernah 'dicurigai'.
"Indonesia tidak pernah disebut-sebut terlibat teroris, orang-orang Islam di Belanda tidak dikenal sebagai radikal. Kekhawatiran di kalangan orang asing itu terutama orang Maroko."
Hal itu, jelas Aboeprijadi, disebabkan Geert Wilders dalam kampanyenya secara khusus merujuk sebagian warga Maroko sebagai sampah.
Peluang Wilders berkuasa?
Beberapa jajak pendapat memperkirakan PVV pimpinan Wilders mungkin akan menjadi partai terbesar walau tetap tidak bisa meraih mayoritas di parlemen.
Perkiraan terbanyak adalah mereka mungkin bisa meraih sekitar 35 kursi mendapat sehingga memerlukan koalisi dengan partai lain untuk bisa memerintah.
Namun hampir dipastikan PVV tidak akan mendapat rekan koalisi.
"Ada kemungkinan memang partai Wilders meraih suara terbesar di Belanda. Tetapi tidak mungkin dia masuk koalisi pemerintah karnea hampir semua partai sudah menyatakan tidak mau bekerja sama dengan Wilders," kata Sam Pormes.
Pormes menduga bahwa bisa jadi koalisi pemerintah saat ini yang akan kembali memerintah dengan pucuk Partai Kebebasan dan Demokrasi, VVD, pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte.
Berdasarkan jajak pendapat, diperkirakan pemerintahan koalisi Belanda mendatang akan diperintah oleh, sedikitnya, koalisi lima partai.

Menyebarnya efek Wilders

Walaupun Wilders kelak tidak jadi memerintah, sebenarnya dia sudah 'menyebarkan' pengaruhnya ke politik Belanda dengan ideologi antipendatang yang didengung-dengungkannya.
PM Mark Rutte, misalnya, pernah menyatakan agar para pendatang yang tidak bisa menyesuaikan diri agar meninggalkan Belanda.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar nasional Algemeen Dagblad, Bulan Jaunari, dia antara lain merujuk pada beberapa orang yang menolak untuk bersalaman dengan perempuan.
Hal itu bisa menjadi salah satu petunjuk bahwa 'kartu Wilders' ternyata juga digunakan partai-partai utama yang khawatir pemilihnya beralih ke PVV.
"Jadi pengaruh Wilders cukup besar," jelas Sam Pormes. "Partai Buruh, misalnya, mengatakan sudah cukup pengungsi tidak usah masuk lagi. Itu belum pernah mereka punya deklarasi seperti itu."
Hal tersebut juga diamati oleh Aboeprijadi Santoso karena partai-partai lain yang memanfaatkan isu populisme yang digunakan untuk melawan PVV.
"Ada angin Wilders yang dipakai juga oleh partai-partai besar saingannya untuk menggembosi Wilders."
Bagaimanapun masih ditunggu apakah pemerintah mendatang kelak akan menerapkan kebijakan antipendatang.
"Ini ungkapan-ungkapan politik dalam kemasan baru. Orang tidak terlampau resah bahwa Wilders akan berkuasa. Jadi pertarungan lebih menguntungkan partai liberal-konservatif VVD dan partai Kristen, CDA," tambah Aboeprijadi Santoso.
Mungkin ancaman ideologi antipendatang memang nyata di Belanda, namun pada satu sisi juga belum terlalu kuat untuk melawan kemapanan politik Belanda selama ini.(bbc/tb)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply