Apa Cara Meredam Paham Radikal di Indonesia?

BINTANGNEWS.com – Penyebaran dan penyusupan paham radikal di Indonesia dianggap makin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir dan harus diambil langkah-langkah komprehensif untuk meredamnya.
Hal ini disampaikan delegasi akademisi dan pemerhati Islam dari Indonesia dalam dialog dengan sejumlah pemuka agama di London, Rabu (05/04) petang.
Jakob Tobing, presiden lembaga kajian Leimena Institute, memaparkan bahwa paham radikal "sudah masuk ke sekolah- sekolah dan juga rumah ibadah oleh pihak-pihak yang ideologi radikalnya berafiliasi dengan jaringan global".
Ia juga menyinggung soal hasil salah satu survei di kalangan anak-anak muda yang mengaku salah satu tokoh favorit mereka adalah pemimpin gerakan radikal di Timur Tengah.
Pengamat Islam dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Azyumardi Azra, mengatakan, salah satu saluran penyebaran paham radikal adalah ceramah-ceramah agama dan pendidikan di sekolah menengah atas melalui guru, yang menyampaikan ajaran Islam garis keras yang tidak mengakomodir keberagaman.
"Ada guru yang terpengaruh dengan paham radikal yang menyebarkan paham ini ke para murid ... ini dijumpai di sejumlah sekolah menengah atas di kota-kota besar di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Makassar," papar Azyumardi kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo.
Paham radikal ini juga disebarkan ke kampus-kampus perguruan tinggi.
Paham radikal yang disebar ini, kata Azyumardi, tidak sesuai dengan nilai-nilai Indonesia dan keberagaman. Para pengusung paham ini aktif mempromosikan pembentukan khilafah.

Makin aktif setelah reformasi

Para pengusung khilafah tersebut, menurut Azyumardi, seakan mendapat ruang seiring dengan konsolidasi demokrasi di Indonesia sejak turunnya Presiden Suharto pada 1998.

"Sejak 1998 dan 1999 mereka dengan bebas bisa mengkampanyekan khilafah dan syariah. Ini salah satu konsekuensi yang tidak diiinginkan dari proses demokrasi," kata Azyumardi.
Melihat situasi ini, lembaga-lembaga pendidikan, terutama kepala sekolah, guru, dan dosen harus waspada dan aktif memberikan panduan yang lebih jelas bagi siswa yang ikut kegiatan di sekolah dan kampus, sehingga penyebaran paham radikal bisa dihentikan.
Di tingkat masyarakat, kata Azyumardi, ada baiknya surat edaran Kapolri dua tahun lalu tentang ujaran kebencian diadopsi menjadi peraturan resmi. Mereka yang terbukti melanggar aturan itu dikenai sanksi.
"Di masyarakat, penyebaran paham radikal banyak yang dilakukan melalui mimbar, baik mimbar Jumat maupun mimbar pengajian. Sering kali penceramah memakai forum ini untuk mempromosikan paham-paham yang tidak sesuai dengan kehidupan, sejarah, budaya dan nilai-nilai bangsa (Indonesia)," katanya.

"Paham yang disebar itu tidak sesuai dengan nilai-nilai toleransi. Mereka tidak menghormati keberagaman, dan yang tak sesuai dengan pandangan mereka dianggap kafir atau murtad."
Dalam konteks ini, Azyumardi setuju jika para aktivis dan pengurus masjid secara berkala mendapatkan 'semacam pembinaan' oleh Dewan Masjid Indonensia dan Kementerian Agama.

Modal budaya

"Saya mendukung wacana dari Menteri Agama yang mengusulkan sertifikasi da'i dan penceramah ... kalau ada materi ceramah agama yang anti-NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus ada delik hukum yang diberlakukan terhadap mereka," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Amin Abdullah, mengatakan bahwa menghentikan penyebaran paham radikal bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Di jalur pendidikan bisa dimulai dengan penyempurnaan materi pendidikan agama sehingga ada konten yang secara khusus membahas ekses yang bisa ditimbulkan dari paham radikal tersebut.
Perlu juga digalakkan kerja-kerja dari para pegiat untuk mempromosikan Islam yang moderat, Islam yang menghargai keberagaman, Islam yang bisa menunjukkan 'wajah yang damai, yang bisa menjadi rahmat bagi semuanya'.
Amin secara khusus menggarisbawahi bahwa masyarakat di Indonesia punya modal budaya yang bisa dioptimalkan untuk menghentikan paham atau ideologi radikal.
"Bahwa kita, masyarakat Indonesia, sejak awal adalah masyarakat yang terbuka, yang toleran, dan menghargai perbedaan atau keberagaman. Ini adalah modal budaya yang penting untuk menangkap paham radikal," kata Amin." (bbc/tb)
 

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply