Lydia: Hijab Itu Buat Sikap dan Perilaku Lebih Terjaga

BINTANGNEWS.com –  Bagi Lydia, keputusan memeluk Islam bukanlan perkara yang mudah. Perlu waktu cukup lama, hingga akhirnya perempuan berusia 29 tahun ini merasa yakin dengan agama yang diturunkan kepada Muhammad SAW itu.

Pemberitaan media Barat terkait Islam serta aksi terorisme yang mengatasnamakan agama ini, terutama Tragedi WTC 9/11 di Amerika, menjadi alasan utama kebenciannya terhadap Islam dan penganutnya.
Bahkan, ia begitu membenci Muslim yang menggunakan hijab. Gambaran Islam dalam pikiran perempuan asal Australia ini sangatlah negatif, meski ia sendiri tak sekali pun pernah bertatap muka dan berbincang dengan Muslim.

Akan tetapi, lambat laun rasa benci tersebut berubah menjadi rasa penasaran yang kuat di benak Lydia. Apa dan sebenarnya Islam? Benarkah terorisme adalah wajah asli pemeluk agama ini?

Demi mencari jawaban atas rasa penasarannya itu, Lydia memutuskan mengunjungi Masjid Auburn Gallipoli yang terletak di New South Wales, Australia. Di masjid ini ia berdialog dengan Muslim.

Perbincangannya seputar Islam dari sumbernya langsung membuka cakrawala dan menggesar perlahan anggapan miringnya. Dua persoalan yang selama ini mengganjal pikirannya adalah aksi terorisme dan stigma negatif yang ditujukan kepada Islam bahwa agama ini mendudukkan perempuan layaknya budak. Dua isu ini pula yang kerap menjadi sasaran media-media Barat.

Seiring berjalannya waktu, Lydia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Pemberitaan media selama ini bertolak belakang dengan fakta yang ia gali langsung dari sumbernya.

Terkait terorisme, misalnya, bagaimana mungkin Islam menyerukan aksi teror, padahal Alquran surah al-Maidah ayat ke-32 menegaskan membunuh satu orang berarti telah membunuh semua umat manusia dan menyelamatkan satu orang berati telah menyelamatkan semua umat manusia.

Ia bahkan sempat beranggapan, pada dasarnya ada banyak kesamaan dengan Islam dan agama yang ia anut ketika itu, yaitu Kristen, terutama sejarah para nabi. Sejak saat itu, ia menjadi rutin mengunjungi masjid minimal satu pekan sekali.

Ia juga tak segan-segan menggunakan penutup kepala untuk menghormati Muslim yang berada di masjid. Rentetan kejadian inilah yang pada akhirnya membuat Lydia tertarik dengan Islam. Meski perlu waktu yang cukup lama, pada ujungnya ia mantap berikrar syahadat dan memeluk agama ini dalam usia yang relatif muda, yakni 21 tahun.

Setelah memeluk Islam, Lydia membutuhkan waktu beradaptasi sebagai seorang Muslimah. Ia sadar jika ia berani menerima kenyataan, hidupnya akan berubah. Ketakutannya semakin bertambah saat membayangkan respons keluarga dan teman-teman terdekat.

Ini hal asing bagi saya. Saya tidak memiliki gambaran bagaimana saya akan menjalani hidup sebagai Muslimah. Ini bukan sesuatu yang akan membuat  orang lain dengan mudah mengucapkan kata selamat, ujar Lydia seperti dilansir news.com.au.

Ia begitu sadar bahwa semua perilakunya akan mencerminkan agama yang ia anut. Jika ia melakukan kesalahan, orang-orang akan mengatakan kesalahan itu karena ia seorang Muslim bukan karena kesalahannya secara pribadi.

Secara perlahan Lydia mulai menceritakan kisahnya kepada keluaraga dan teman-teman terdekat. Syukurlah, ia tidak terlalu mendapat penolakan yang berarti dari keluarga besarnya. Mereka mengangap pilihan dan keputusannya memilih Islam adalah salah satu tahap baru dalam hidupnya.

Lydia mengaku telah menerima banyak hal sulit dalam hidupnya sejak berislam. Namun, dengan senantiasa 'menghadirkan' dalam langkah dan doanya, ia selalu merasa mampu melewati semua ujian yang ada.

Ia selalu memiliki keyakinan tentang apa yang ia perjuangkan. Teman-temannya menganggap bahwa apa yang dialami Lydia hanya sebuah fase hidup dan bersifat sementara. Namun, ia selalu yakin dengan keputusan yang ia buat.

Banyak orang yang menanyakan keputusannya mengenakan hijab. Setiap orang yang Lydia temui selalu saja menanyakan alasannya berjilbab. Jawabannya cukup sederhana, berhijab merupakan perintah Alquran dan harus dipenuhi Muslimah.

Lydia berpandangan, jilbab bukan hanya membuat penampilan fisik menjadi sederhana, melainkan juga akan membuat sikap dan perilaku menjadi lebih terjaga.

Hijab juga membuat ia terlindung dari tindakan negatif laki-laki yang ingin melakukan kejahatan seksual. Untuk itu, jilbab telah menjadi bagian kuat dari identitas eksternalnya.

Lydia sadar banyak orang yang memiliki anggapan Muslimah pengguna hijab seperti tertindas dan bukti keterpaksaan. Padahal, mayoritas Muslimah Australia mengenakan hijab karena pilhan mereka sendiri tanpa paksaan dari siapa pun.

Lydia juga menyadari keputusan mengenakan hijab akan membuat dirinya berpeluang menjadi korban kekerasan fisik atau verbal dari orang asing. Ia mengaku pernah dilecehkan secara lisan di depan anaknya yang masih balita dan menerima surat bernada kebencian. Surat itu memintanya meninggalkan negara atau akan ditembak dan dibunuh.

Di berbagai kesempatan, Lydia kerap mengkritik berbagai aksi kekerasan dan terorisme ISIS. Ironisnya, ia sendiri justru kerap memperoleh ancaman dari warga non-Muslim Australia. Ini sangat mengecewakan dan membingungkan, katanya.

Ia memiliki harapan yang tinggi kepada pemerintah agar dapat ikut bertanggung jawab secara sosial dan tidak mengeluarkan pernyataan yang justru mengarah untuk memecah belah persatuan bangsa”. (rol/jon)

 

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply