Mengapa WNI di Belanda Gelar Aksi Dukung Ahok?

BINTANGNEWS.com – Lebih dari 2.000 warga Indonesia berkumpul di Amsterdam, Belanda sebagai respons atas vonis kasus penistaan agama yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Sabtu malam (13/05).
Aksi bertajuk "Malam solidaritas untuk keadilan di Indonesia" berlangsung sejak pukul 20.00 hingga 21.30 waktu setempat di Museumplein, sebuah lapangan yang dikelilingi empat museum besar. Ini adalah aksi kedua di Belanda setelah aksi serupa digelar di Kota Groningen pada Jumat (12/05).
Menurut wartawan Febriana Firdaus yang melaporkan dari Belanda, peserta aksi mayoritas warga Indonesia yang telah menetap lama di 'Negeri Tulip'. Mereka datang dari berbagai kota, seperti Leiden, Den Haag, dan Utrecht.
Salah seorang peserta bernama Heri Latief, misalnya, adalah seorang warga Indonesia yang telah menetap dan bekerja di Belanda sejak 1986. Ia mengaku ingin bergabung dengan aksi ini karena menaruh simpati pada Ahok. "Ini tidak adil, kasus itu dicari-cari, rekayasa," katanya sambil membawa kertas bertuliskan Free Ahok dan bendera merah putih.
Lain lagi, Arnold, 50, warga negara Belanda, salah satu peserta aksi. Meski bukan warga negara Indonesia dan tak akrab dengan sepak terjang Ahok di Jakarta, ia menganggap kasus penistaan agama yang membuat mantan gubernur DKI Jakarta itu masuk penjara sebagai sesuatu yang konyol.
"Dia tidak spesial, sama dengan orang lain. Tapi ketika seseorang masuk penjara selama dua tahun karena urusan itu, ini konyol," ujarnya.

‘Bermuatan politis'

Sebelum Ahok, ada beberapa kasus penistaan agama yang menimpa kelompok minoritas di Indonesia.
Sebut saja kasus yang menimpa pemimpin kaum Syiah di Madura, Tajul Muluk. Kemudian, tokoh Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Ahmad Musadeq. Kasus ini juga menimpa Lia Aminudin, atau Lia Eden, yang mengaku sebagai imam Mahdi dan mendapat wahyu dari malaikat Jibril.

Kasus penistaan agama juga pernah menyeret penulis Arswendo Atmowiloto karena memuat survei tokoh pilihan pembaca dalam tabloid Monitor yang menempatkan Presiden Soeharto kala itu di tempat pertama sementara Nabi Muhammad di urutan ke-11.
Namun, mengapa tiada aksi buat mereka? Mengapa Ahok diistimewakan?
Heri Latief mengatakan kasus Ahok menjadi penting karena diduga bermuatan politis.
"Yang membedakan, karena ini politisasi pertarungan kelompok Orde Baru yang masih diwakili Prabowo (Subianto) dan super baru yang diwakili Jokowi (Joko Widodo) dan Ahok," katanya.
Cecilia Rizal, warga Indonesia yang bermukim di Amsterdam, mengatakan dia ikut aksi tersebut bukan semata-semata mendukung pembebasan Ahok.
"Saya khawatir akan hilangnya hati nurani bangsa dan keutuhan NKRI. Biasanya saya diam, tapi sekarang bukan saatnya diam lagi. Dia (Ahok) tidak pantas masuk penjara, menurut saya. Lebih dari itu keutuhan bangsa sedang krisis," ujar Cecilia.

Lagu-lagu nasional

Aksi solidaritas di Museumplein cukup berbeda dengan yang dilaksanakan di Indonesia dan negara lain. Sebab pihak keamanan di depan museum tidak mengizinkan peserta aksi menyalakan lilin dan pengeras suara.
Meski demikian, dari pantauan Febriana Firdaus, masih ada peserta yang membawa lilin.
Mereka kompak menyanyikan beberapa lagu nasional. seperti Rayuan Pulau Kelapa gubahan Ismail Marzuki, Garuda Pancasila, dan Dari Sabang Sampai Merauke.
Di sela-sela pergantian lagu, tak jarang peserta meneriakkan yel-yel, "Hidup NKRI."
Kegiatan aksi malam ini berlangsung hingga pukul 21.30. Peserta aksi tak serta merta meninggalkan lokasi. Mereka berbaur dan mengibarkan bendera merah putih.
Aksi solidaritas di Amsterdam tersebut hanyalah satu dari rangkaian aksi serupa pada 13-14 Mei di berbagai kota di dunia, dari Washington DC, Helsinki, hingga Hong Kong.(bbc/reff)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia Di Twitter @Bintangnews.Com
                                                    


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply