”Pesan Hamba kepada Sang Raja”












Oleh: T. BINTANG       
Pemred Bintangnews.com    
BINTANGNEWS.com – Sudah menjadi lumbrah jika seorang Sodagar kaya (pengusaha) untuk menarik perhatian Sang Rara, jika menghadap ke Istana pasti akan membawa sesuatu yang paling berharga (Upeti). Soal nilai dan harga tak menjadi
masalah yang penting bagaimana dapat berkenan di hati paduka.

Padahal dibalik itu ada sesuatu yang diharapkan yang lebih berharga dari apa yang mereka berikan, yakni ”kebijakan sang Raja”, sekalipun kebijakan tersebut sering melahirkan kontroversi ”, tapi itulah budaya yang terjadi sejak lama di di lingkungan Istana kerajaan.

Lain halnya dengan kami hanya seorang hamba yang lemah, kami datang tidak membawa Emas dan Intan berlian, karena semua itu tidak kami miliki, namun jika yang mulia berkenan, kami datang hanya ingin menyampaikan pesan untuk paduka, melalui karya tulis ini, yang telah kami pelajari sejak puluhan tahun yang lalu.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat hamba kepada yang mulia, karena kami hanya seorang putera desa yang dibesarkan dari keluarga petani Gandum, namun hal itu tidak mengurangi niat baik kami, karena sebagai warga negara memiliki hak yang sama, untuk memberikan kontribusi bagi keutuhan suatu bangsa dan negara.

Sebagaimana Undang-undang nomor 3, tahun 2002, tentang pertahanan negara, dan bela negara, terutama yang dilansir oleh pasal 9,” setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara. 
 
Dengan demikian, ambil lah karya tulisan hamba ini,” semoga paduka tidak menganggapnya kami lancang, namun tidak pula tulisan ini dianggap istimewa. Harapan kami kekuasaan ditangan yang mulia agar mencapai kejayaan yang abadi dan, mampu membawa rakyat yang lemah ini akan menjadi lebih sejahtera dibawah kepemimpinan paduka.

Dengan hati yang tulus hamba sampaikan kepada Sang Raja,” mengingat tidak sedikit seorang penguasa yang terjebak dalam kealfaan akibat orang-orang di sekelilingnya, yang Asal Bapak Senang (ABS). 

Sedangkan dalam teori managemen politik kepemimpinan yang baik, orang paling pertama yang harus disingkirkan adalah penjilat, karena laporannya tidak pernah obyektif, lepas dari menjerumuskan atau tidak, yang pasti penjilat tidak pernah memikirkan nasib pemimpin.

Maka dapat dipastikan, untuk mengukur kecakapan seorang pemimpin, hedaknya tidak harus memerlukan orang Genius, cukup dilihat dari orang-orang disekelilingnya. Karena orang hanya bisa duduk tenang jika memiliki anak panah dan Busyurnya, jika tidak, biasanya hanya akan menjadi pembual (Pembohong besar).  
 
Perlu diketahui, bahwa watak penjilat tidak pernah tahu berterimakasih, disaat mendapingi orang sukses, apapun dipertaruhkan, namun giliran pemimpin jatuh, kalau perlu dia sendiri juga akan ikut balik membunuhnya.

Watak penjilat juga tergantung pada arah angin yang paling meungkinkan, karena sewaktu-waktu dia bisa berubah seratus delapan puluh lima derajat, nalar cerdas penjilat bisa beribah seketika menjadi licik licin seperti Kancil, ganas garang bagaikan Singa, dengan mulut yang menganga dan taring yang siap terkam, dia bisa rakus haus tak harus melihat siapa mangsanya,” itulah watak Penjilat. 

Maka di zaman Nabi, jika pemimpin murka, yang mampu mengalahkannya hanya utusan Tuhan (Allah), sebut saja murkanya Raja Firaun, pemimpin Mesir terdahlu, yang mampu mengalahkan adalah, hanya Nabi Mussa, yang ditenggelamkan Tuhan di Laut merah.

Tapi di zaman modern, jika pemimpin murka, hanya bisa dikalahkan oleh terakumulasi dengan kesalahannya sendiri yang membuat dirinya jatuh.

Akhirnya, hamba hanya bisa berpesan,” selamat bertugas yang mulia”, semoga Paduka menjadi pemimpin yang amanah, karena do’a rakyat lemah biasanya kalau sering dizalimi akan sangat mujarab.

Namun demikian, beruntunglah Bagenda Raja kini terpilih menjadi pemimpin, bersyukurlah paduka mendapat tugas yang mulia dipercaya rakyat, karena sangat terlalu sedikit sekali bagi manusia yang terpilih menjadi pemimpin, dari jutaan rakyat yang menginginkannya.

Tapi ingat masa jabatan Itu sangat relatif singkat, seakan masih terasa hangat dalam ingatan kalau hari kemarin baru saja dilantik, ooh..gak tahunya hari ini sudah berjalan sekian tahun.  

 Dan ingat jangan sampai jabatan ini akan berujung duka, karena tidak sedikit para pemimpin dunia kariernya berakhir di ”Tiang Gantungan”.***   
Ikuti Terus Sumber Infomasi Dunia di Twitter @bintangnews.com


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply