Kaum Ateis Secara Naluriah Mengapa 'Kurang Bermoral'?

BINTANGNEWS.com – Penelitian baru yang disusun oleh tim internasional menyimpulkan bahwa orang-orang ateis "secara umum dianggap potensial
berahklak buruk dan berbahaya" bahkan di negara-negara sekuler sekali pun.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour, mengkaji tanggapan lebih dari 3.000 orang dari 13 negara di lima benua.
Mereka yang mengambil bagian dalam penelitian ini disodori pertanyaan apakah seseorang dalam bayangan, yang menyiksa binatang pada waktu kecil sebelum menjadi guru dan kemudian membunuh lima tuna wisma, kemungkinan besar menjadi seorang yang taat beragama atau ateis.
Di semua kelompok orang-orang yang diteliti, ditemukan bahwa mereka dua kali lebih mungkin meyakini bahwa si pembunuh tadi adalah seorang yang tidak percaya pada Tuhan atau ateis.
Penelitian baru ini juga menunjukkan bahwa sebagian orang ateis bahkan mempunyai 'bias antiateis' yang sudah tertanam ketika mereka menilai moralitas seseorang.
Salah satu penyusun penelitian, Will Gervais, dosen psikologi di Universitas Kentucky, Lexington, mengatakan kepada kantor berita AFP, "Ini luar biasa bahwa bahkan orang-orang ateis pun tampak mempunyai bias antiateis naluriah.
"Saya kira persoalan ini berasal dari prevalensi norma proagama yang sangat mengakar. Bahkan di tempat-tempat yang pada tahap sekarang terus terang cukup sekuler, masyarakat masih tampak memegang keyakinan bahwa agama merupakan penjaga moral."

Beda cara pandang

Namun bias antiateis lebih banyak ditemukan di negara-negara yang banyak penduduknya mempercayai adanya Tuhan, seperti Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan India.
Hanya Selandia Baru dan Finlandia tidak menunjukkan bias yang jelas terhadap orang-orang ateis.
Dosen sosiologi dan antropologi Universitas Andalas, Nusirwan Efendi, sependapat dengan Will Gervais bahwa agama menjadi tolok ukur utama dalam menilai moralitas seseorang.
"Ini adalah persoalan cara pandang dan prinsip yang dipakai untuk memandang itu. Jadi kalau mereka mengatakan bahwa ateis itu kurang bermoral atau kurang akhlaknya tentu kata-kata akhklaknya saja sudah menggunakan suatu dasar keyakinan yang tertentu," jelas Nusirwan Efendi dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.
Namun, lanjutnya, dalam kehidupan bermasyarakat dari sisi sosiologi dan antropologi maka tolok ukur moralitas seseorang, termasuk ateis, adalah eksistensi perilaku.
"Kalau perilakunya (ateis) tidak merusak dan sebagainya, kenapa harus kita katakan mereka jelek."
Nusirwan Efendi menuturkan ia mempunyai pengalaman berteman dengan beberapa orang ateis ketika tinggal di Eropa.
"Mereka baik sekali dan saya sendiri bingung. Kenapa dia tidak percaya Tuhan tetapi perilakukanya elok betul, menolong, lalu suka tepo seliro (tenggang rasa)."
Kesimpulannya, menurut Nusirwan Efendi, seorang ateis dipandang berakhlak kurang baik jika yang digunakan untuk mengukur adalah dasar keyakinan, dan jika yang digunakan adalah perbedaan dasar keyakinan maka tidak akan ditemukan titik temu." Demikian.(bbc/tb)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia Di Twitter @Bintangnews.Com

 

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply