Menlu Retno Mulai Sibuk Jelang Kedatangan Presiden Putin

BINTANGNEWS.com –  Mendahului rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin, Menteri Luar Negeri Rusia mengunjungi Indonesia, antara lain untuk menyepakati kerja sama
dalam penanganan potensi terorisme dan kejahatan siber.
Kesepakatan itu dipublikasikan usai pertemuan antara menteri luar negeri kedua negara, Retno Marsudi dan Sergey Lavrov, di Gedung Pancasila, Jakarta, Rabu (09/08).
"Penguatan kerja sama penanganan keamanan siber dan counter terrorism menjadi perhatian kedua negara," demikian pernyataan tertulis Kemlu, pagi tadi.
Usai pertemuan bilateral, kedua menteri hanya memberikan pernyataan pers dan tidak menyediakan sesi tanya jawab resmi dengan wartawan.
Namun dalam kesempatan sesudahnya, Menlu Retno Marsudi menuturkan, pertemuan dengan sejawatnya dari Rusia tidak membahas secara spesifik berbagai hal aktual seperti barter pesawat tempur Sukhoi dengan komoditas Indonesia, atau sanksi Amerika Serikat.
"Tidak spesifik membahas itu," kata Retno.
Sementara sejumlah masalah global seperti situasi Laut China Selatan, memanasnya Semenanjung Korea akibat percobaan alutsista Korea Utara, dan teror ISIS di Marawi, Filipina maupun Suriah, kata Retno, telah mereka bicarakan di Manila, dalam sepekan terakhir.
Dalam tiga tahun terakhir, Retno telah empat kali berjumpa Lavrov. Sebelum pertemuan di Jakarta, mereka menjadi bagian dalam forum menteri luar negeri ASEAN di Manila, Filipina, yang turut dihadiri Lavrov dan perwakilan sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, China, Jepang dan Korea Utara.
Retno mengatakan, ia dan Lavrov menandatangani dokumen rencana konsultasi kementerian luar negeri Indonesia dan Rusia 2017-2019. Menurutnya, dokumen itu merupakan penanda peningkatan hubungan bilateral antara kedua negara.
"Hal ini secara jelas menunjukkan keinginan untuk mengintensifkan hubungan dan konsultasi," ujarnya.
Dokumen itu, kata Retno, merupakan pembaruan terhadap kemitraan strategis Indonesia-Rusia yang ditandatangani pada 2003. Retno berkata, kemitraan strategis itu adalah yang pertama kali diteken Indonesia dengan negara lain.
Kedatangan Sergey Lavrov, bisa dikatakan merupakan kunjungan pendahuluan, sebelum kunjungan kenegaraan Presiden Vladimir Putin.
"Pembahasan kemitraan strategis akan segera dilakukan Indonesia dan Rusia. Hasilnya diharapkan dapat diluncurkan jelang kedatangan Presiden Putin untuk memenuhi undangan Presiden Jokowi," tulis keterangan resmi Kemlu.
Retno mengatakan, hingga saat ini Rusia belum mengkonfirmasi tanggal kunjungan Putin ke Indonesia. Namun ia menyebut Rusia telah mengetahui beragam persiapan yang dilakukan Indonesia untuk menyambut Putin.
"Undangannya ada dan Presiden Putin sudah merencanakan. Tapi yang terpenting adalah mengisi rencana kunjungan tersebut," kata Retno.
Presiden Indonesia Joko Widodo terakhir bertemu empat mata dengan Putin di sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Rusia. Forum itu digelar di Sochi, Rusia, Mei 2016.
Retno menyebut dua hal lain yang dicicil kementeriannya jelang kedatangan Putin, yakni menyelesaikan beberapa nota kesepahaman yang selama ini tertunda dan menuntaskan penjajakan kerja sama ekonomi.
Saat ini, kata Retno, Indonesia tengah berupaya membuka free trade area dengan Eurasian Economic Forum. "Kawasan itu adalah pasar dengan populasi 180 juta jiwa, dan 144 juta di antaranya adalah warga Rusia," ucapnya.
Dihubungi terpisah, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menilai Rusia saat ini fokus mengembangkan kerja sama ekonomi, bukan hanya dengan Indonesia, tapi ASEAN secara keseluruhan.
Langkah itu menurutnya vital setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia, Juli lalu.
Hikmahanto menuturkan pola hubungan Rusia dan ASEAN saat ini lebih mengacu ke sektor ekonomi, bukan politik global seperti yang biasa terjadi beberapa dekade lalu.
"Kelihatannya Rusia tidak ingin bergantung pada yang dilakukan Amerika Serikat kepada mereka sehingga Rusia harus mencari mitra yang bisa menggantikan posisi Amerika Serikat. Saat ini bisa dibilang ASEAN adalah kumpulan negara-negara yang seksi untuk didekati," ujarnya.
Sebelumnya, Indonesia dan Rusia menyepakati barter komoditas pertanian dengan pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia.
Kesepakatan ini mendapat beragam tanggapan, terkait posisi Rusia yang mendapat sanksi AS terkait dugaan keterlibatan negara itu dalam pemilihan presiden AS yang dimenangkan Donald Trump dan tindakannya di Ukraina timur."(bbc/tb)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia Di Twitter @Bintangnews.Com
 

 

Related News

No comments:

Leave a Reply