Uskup Hubertus Mundur Karena Isu Skandal Hubungan Terlarang

BINTANGNEWS.com – Pengunduran diri Monsinyur Hubertus Leteng sebagai Uskup Ruteng di Nusa Tenggara Timur yang sudah disetujui Tahta Suci Vatikan terkait dengan penyelewengan dana gereja dan
isu hubungan terlarang dengan perempuan.

Di luar persoalan penggelapan uang, kisah Hubertus sebenarnya mengulang persoalan selibasi dalam komunitas pemuka agama Katolik di pelbagai negara.

Pimpinan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Franz Magnis Suseno mengatakan, setiap calon imam Katolik Roma harus mengucap janji hidup selibat sebelum tahbisan.

Janji itu, kata Franz, akan terus mengikat para pastor selama mereka tidak mendapatkan kebijakan khusus dari Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma.

"Itu adalah janji bahwa mereka tidak akan menikah dan sama sekali tidak akan aktif secara seksual," ujarnya kepada BBC Indonesia, Jumat (13/10).

Franz -seorang pastor dari tarekat Serikat Yesus- menyebut janji selibat merupakan salah satu tantangan terberat yang harus dijalani imam Katolik Roma dan sejumlah pastor memilih menanggalkan status imam karena tak sanggup menanggung kewajiban hidup selibat.

"Dari segi seksual, banyak pastor merasa sepi atau selalu sendirian dan ada yang kemudian jatuh cinta. Itu selalu menimbulkan tantangan besar, ada akhirnya yang berhenti jadi imam," kata Franz.

Romo Benny Susetyo, imam kategorial di Keuskupan Malang, menyebut hidup selibat berkaitan dengan tugas melayani tuhan secara total. Artinya, kata dia, para imam diminta mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kegiatan rohani dan menyingkirkan kepentingan pribadi.

Menurut Benny yang kini berstatus anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila, perkembangan zaman memperberat tantangan hidup selibat.
"Tantangan globalisasi memang banyak, hedonisme dan segala hal yang didapat secara mudah. Di situlah kami diuji," kata Benny.

Fenomena global
Beragam catatan jurnalistik dan penelitian ilmiah sebelumnya telah mengungkap banyak kasus seksualitas di kalangan imam Katolik. September lalu, Universitas RMIT Australia menerbitkan laporan yang mereka kerjakan sejak 1985, berjudul Child Sexual Abuse in the Catholic Church.

Profesor Des Cahill -salah seorang penulis laporan itu- menyebut ribuan anak di panti asuhan yang dikelola gereja Katolik di seluruh dunia rentan menjadi korban pelecehan seksual para pastor.

Cahill -mantan imam yang memutuskan mundur dari gereja untuk menikah- mengatakan bahwa pelecehan seksual pastor terhadap anak belakangan menurun seiring kewaspadaan orangtua dan pengawasan gereja.

Laporan itu juga menyebut, dalam rentang tahun 1950 hingga 2000 tercatat satu dari 15 imam di Australia, Irlandia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Belanda, melecehkan anak dan remaja secara seksual.

Maret 2017, media Italia melaporkan skandal pesta seks yang diduga dilakukan sejumlah imam di Napoli. Adapun, pada Oktober 2015, Paus Fransiskus secara terbuka meminta maaf atas skandal hubungan seksual sesama jenis sejumlah pastor Katolik Roma.

Sementara pada 2006, BBC -melalui karya dokumenter berujudul Sex Crimes and the Vatican- mengungkap kebijakan Vatikan yang cenderung menyelesaikan kasus kekerasan seksual para imam secara internal dibanding memperkarakannya ke penegak hukum.

Satu kisah penyimpangan selibat terkenal lainnya muncul dari sosok Alberto Cutie -mantan pastor Katolik di Miami, Amerika Serikat. Pada 2009, Cutie mengundurkan diri dari gereja Katolik Roma setelah dugaan menjalani percintaan dengan perempuan.

Tak lama setelah itu, Cutie menikahi perempuan bernama Ruhama Buni Canellis dan memutuskan untuk melayani Tuhan sebagai pendeta di Gereja Episkopal Florida yang berada di bawah naungan Gereja Anglikan Inggris.

Adapun, Monsinyur Hubertus Leteng yang mengundurkan diri dari Keuskupan Ruteng menolak mengomentari dugaan skandal percintaannya. "Saya lebih memilih diam daripada berbicara," ujarnya kepada BBC Indonesia.

'Tidak harus selibat'
Paus Fransiskus Maret lalu mengungkap gagasan menahbiskan pria menikah menjadi imam karena kebijakan itu dapat menutup kekosongan pastor di daerah-daerah terpencil.

Romo Franz mengatakan gagasan itu sebenarnya telah muncul puluhan tahun lalu dan bahka belakangan ini ada sebagian umat Katolik Roma di Jerman yang mendorong Vatikan agar tidak lagi ketat soal aturan selibat.

"Banyak umat tidak keberatan jika imamnya menikah. Artinya, dukungan terhadap hidup selibat berkurang," ujarnya.

Franz menuturkan, selibat merupakan doktrin yang pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kebijakan Vatikan. Ia berkata, Tahta Suci mengizinkan gereja Katolik Roma di Eropa Timur menahbiskan pria menikah menjadi pastor.

"Gagasan ini didukung sangat banyak pihak, termasuk saya juga, bahwa dimungkinkan imam diambil dari orang yang menikah. Itu akan menjadi hal baru, tapi tidak akan ada masalah teologis sama sekali," ujarnya.(bbc/bin)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di Twitter @Bintangnews.Com


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply