Kesepakatan Nuklir Dibatalkan AS, Iran akan Buat Trump Menyesal

BINTANGNEWS.com – Iran memperingatkan pihaknya dapat memikirkan kembali kesepakatan kerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB, IAEA, jika Amerika Serikat (AS) gagal
menjalankan komitmennya. Hal tersebut ditegaskan oleh kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi.

Peringatan itu disampaikannya saat melakukan percakan telepon dengan Direktur Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Yukiya Amano.

"Jika AS tidak memenuhi komitmennya dalam JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), Republik Islam Iran akan mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kerja sama saat ini dengan Badan Tenaga Atom Internasional," katanya seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (9/1/2018).

Lebih jauh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi, memperingatkan bahwa kemungkinan pencabutan atau perilaku irasional yang berhubungan dengan kesepakatan nuklir akan menjadi kesalahan terang-terangan yang oleh pemerintahan Trump akan disesalinya.


"Semua pilihan ada di meja Republik Islam untuk kondisi apapun dan akan dilaksanakan pada hari yang sama dan dengan cepat sesuai dengan jenis keputusan yang dibuat di AS," ujar Qassemi.

Sementara Deputi bidan Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araqchi menyatakan Iran siap menghadapi skenario apapun. Dilansir Sindonews menurutnya, mundurnya Washington dari JCPOA mungkin saja dilakukan.

"Wilayah kita tidak akan berubah menjadi daerah yang lebih aman tanpa kesepakatan nuklir," katanya.

Donald Trump menjuluki perjanjian nuklir Iran sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah ada" dan mempertimbangkan kemungkinan penarikan Washington dari pakta tersebut. Pada bulan Oktober, presiden AS menolak menandatangani kepatuhan Iran atas kesepakatan yang ditandatangani oleh pendahulunya Barack Obama.

Kesepakatan 2015 antara Teheran dan enam kekuatan dunia - China, Prancis, Jerman, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris - secara luas, melibatkan, pencabutan sanksi terhadap Iran dengan imbalan Teheran membatasi program nuklirnya.

Trump harus memutuskan pada pertengahan Januari apakah akan memperpanjang keringanan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran di bawah kesepakatan nuklir atau tidak. Jika Trump gagal untuk menandatangani keringanan dana, yang akan diperpanjang setiap 120 hari, pembatasan terhadap Teheran akan diberlakukan secara otomatis.

IAEA telah berulang kali mengkonfirmasi kepatuhan penuh Iran terhadap kesepakatan internasional tersebut, dengan mengatakan bahwa Teheran belum memperkaya uranium di atas tingkat yang ditentukan. Pengawas PBB juga menjelaskan bahwa mereka tidak pernah mengalami hambatan dalam memperoleh akses ke lokasi nuklir yang diinginkan di dalam negeri.

Gagasan tentang kemungkinan Iran keluar dari kesepakatan penting tersebut pertama kali disuarakan oleh menteri luar negeri Mohammad Javad Zarif.

"Jika Washington memutuskan untuk mencabutnya, Iran memiliki pilihan untuk melakukan penarikan dan pilihan lainnya," kata Zarif pada bulan September lalu.(reff)
Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com   


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply