Pesan Hamba Kepada Sang Raja

Oleh: T. Bintang
Pemred BINTANGNEWS.com        
BINTANGNEWS.com – Sudah menjadi lumrah jika seorang pengusaha ataupun sodagar kaya, kalau mau menghadap kepada sang Raja, untuk mencari simpatik dari yang mulia, pasti
akan membawa barang yang paling berharga (upeti). Soal nilai dan harga bagi merika tak menjadi soal, yang penting bagaimana agar dapat berkenan dihati Paduka.

Tapi biasanya, dibalik itu semua ada sesuatu yang diharapkan dari kebijakan sang raja yang lebih berharga dari apa yang mereka berikan,” tapi itulah budaya selama ini yang terjadi dilingkungan Istana.

Namun lain halnya dengan kami hanya seorang hamba yang lemah, dari seorang putera desa yang dibesarkan ditengah keluarga Petani Gandum. Kami menghadap paduka yang mulia tidak membawa Emas, Intan ataupun Berlian, karena hamba tak memiliki semua itu. tapi jika yang mulia berkenan, hamba menghadap paduka hanya ingin menyampaikan pesan melalui karya tulis ini yang telah kami telaah sejak puluhan tahun lalu.

Tanpa mengurangi rasa hormat hamba kepada sang raja, demi yang mulia maka hal itu tidak membuat kami minder, karena setiap warga negara memiliki hak yang sama dan memiliki hak untuk berprestasi bagi setiap anak bangsa.

Dengan demikian, semoga paduka tidak menganggapnya kami lancang, dan jangan pula karya tulis ini dipandang istimewa.

Demi yang mulia, ambilah pesan tulisan ini, dengan tulus kami persembahkan agar dalam kekuasaan paduka tetap mencapai puncak kejayaan yang abadi, karena masa jabatan itu sangat relatif singkat.

Maka jika ada orang yang menyanjung belum tentu mendukung, demikian pula sebaliknya, jika ada orang menyerang belum tentu pula itu lawan,” siapa tahu itu bagian dari tanggung jawab dari sebuah elemen anak bangsa yang sayang terhadap pemimpinnya.

Karena kami yakin betul, setiap calon pemimpin pasti seorang reformis, tapi sayangnya, setelah memasuki ruang Istana, terkadang hamba khawatir paduka kerap terjebak dengan budaya raja.

Sekali lagi, tidak mengurangi rasa hormat hamba kepada paduka yang mulia,” ciri-ciri budaya buruk raja, ada empat hal yang kerap terjadi di lingkungan Istana, pertama,” apa kata raja, itulah ibarat undang-undang, lepas dari menyalahi aturan atau tidak, tapi itu sudah perintah raja. Yang kedua, apa yang dia minta maka harus ada, lepas milik orang lain atau bukan, biasanya, keinginan raja tetap harus dipenuhi.

Yang ketiga, raja biasanya pantrang memberi, karena sudah terbiasa menerima upeti dari bawahannya, yang terakhir, raja tidak mengkhendaki ada dua mata hari dinegerinya sendiri.

Maka tidak heran, jika karakter raja sudah menganut pada ego sektoraknya, walaupun ada puluhan Spiritual atau Dukun Istana, itu akan menjadi sia-sia, karena nasehatnya tidak pernah didengar. Bahkan yang lebih ampuh lagi hanya gologan orang-orang penjilat, kelompok Asal Bapak Senang (ABS), maka tidak sedikit penguasa kerap terjebak hanyut dalam kealfaan.

Padahal manusia penjilat laporannya tidak pernah obyektif, lepas menjerumuskan atau tidak biasanya mereka tidak pernah memikirkan nasib pimpinannya. Maka dalam teori politik, orang pertama yang harus disingkirkan adalah, kelompok penjilat atau ABS.

Pepatah bijak Mengatakan,” untuk mengukur kecakapan seorang pemimpin, sesungguhnya tidak harus memerlukan orang genius, cukup dilihat dari orang-orang disekelilingnya. Karena orang akan bisa duduk tenang jika punya anak panah dan busyurnya, jika tidak biasanya orang akan menjadi pembual (pembohong besar).  

Watak penjilat juga biasanya bisa tergantung pada arah mata angin yang lebih menguntungkan, karena mereka bisa lecik licin seprti kancil, ganas garang bagaikan singa.

Sekali lagi dengan berat hati kami sampaikan, di zaman nabi jika ada pemimpin murka hanya rasul yang bisa mengalahkannya, karena itu utusan tuhan YME. Sebut saja murkanya Firaun, hanya nabi Musa SAW, karena Musa adalah utusan Allah.

Namun di zaman morern, jika pemimpin murka, dia hanya bisa jatuh dengan terakumulasi atas kesalahannya sendiri.

Jika sedikit mengutif dari gaya kepemimpinan Umar bin Khattab, yang terkenal berani, adil, jujur, bijaksana dan, sangat sederhana, yang selalu menghormati pendapat orang lain jika dipandang demi kemajuan bangsa dan negara. .

”Demikianlah pesan hamba, dan bawalah negeri ini dari amanah rakyat, aggar tugas yang mulia ada dalam lindungan Allah. Akhirnya kami hanya bisa berpesan dan berdo’a,” selamat bertugas yang mulia, Insya Allah do’a hamba akan senantiasa menyertai maha besar paduka.” Amiin...   

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter @bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply