Serangan Nuklir akan Taktis ke Korut, Ini Indikasinya

BINTANGNEWS.com – Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mempersiapkan serangan nuklir taktis ke Korea Utara (Korut). Indikasi yang memperkuat
laporan ini adalah pengerahan diam-diam berbagai pesawat pembom, termasuk B-2 dan B-52 ke Guam.

Serangan nuklir taktis sudah lama diwacanakan Pentagon sebagai solusi untuk mengeluarkan Kim Jong-un dari kekuasaannya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa serangan nuklir taktis secara cepat di Korut dapat melumpuhkan infrastruktur nuklir negara itu dengan sedikit korban jiwa.

Laporan terbaru menyatakan Presiden Donald Trump telah mempertimbangkan serangan di Kout, namun beberapa ahli dan politisi berpikir bahwa gagasan serangan nuklir taktis adalah resep untuk bencana.

Aksi pengerahan “triad nuklir” AS secara diam-diam ke Pasifik—tepatnya ke Guam—dilakukan selama jeda ketegangan antara Washington dan Pyongyang.

Sebagai contoh, AS baru-baru ini mengirim pesawat-pesawat pembom siluman B-2 ke Guam yang akan bergabung dengan pesawat B-1 dan B-52, kelompok pesawat pembom lain di armada AS.

Pesawat B-2 dan B-52 dikenal sebagai kaki udara triad nuklir AS, karena keduanya membawa rudal jelajah berhulu ledak nuklir.

B-61, sebuah bom nuklir taktis yang bisa dibawa pesawat pembom B-2, telah dimodifikasi dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan akurasi dan kemampuannya guna mencapai sasaran bawah tanah, meskipun versi baru bom berbahaya tersebut belum digunakan.

Tidak hanya modifikasi baru, bom nuklir B-61 dibuat ideal untuk menghancurkan sebuah bunker yang berpotensi jadi tempat persembunyian pemimpin Korut Kim Jong-un saat konflik pecah. Namun, dampak radioaktif yang berbahaya setelah serangan nuklir sedang dipertimbangkan.

AS memiliki banyak senjata nuklir sehingga dapat dengan mudah menekan Korut dari darat, udara, atau laut. Hanya saja, persenjataan Pentagon itu sebagian besar untuk mencegah potensi serangan negara-negara rival utama AS seperti Rusia atau pun China.

Menurut sumber Sondonews, sebuah makalah tahun 2017 di MIT’s International Security menyarankan sistem panduan baru yang memungkinkan senjata nuklir AS menghancurkan semua infrastruktur nuklir Korut. Tapi, imbasnya diprediksi menyebabkan kematian 2 juta sampai 3 juta jiwa di kedua pihak.

Melissa Hanham, seorang peneliti senior di James Martin Centre for Nonproliferation Studies, menilai laporan makalah itu cacat. Hanham mengatakan kepada Business Insider yang dilansir Kamis (25/1/2018), bahwa hanya lima situs yang merupakan keseluruhan dari infrastruktur nuklir Korut yang berdiri tanpa guna.

Korut sendiri telah berusaha keras untuk mencegah serangan nuklir atau konvensional musuh dengan menyebarkan infrastruktur nuklirnya ke seluruh negeri. Situs-situs nuklir rezim Korut tersebut selalu diselimuti kerahasiaan.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply