Mengapa Sri Mulyani Mendapa Predikat Menteri Terbaik Dunia

BINTANNEWS.com – Ketika mendengar bahwa Sri Mulyani mendapat penghargaan sebagai Menteri terbaik dunia di World Development Summit di Dubai, saya tak terlalu terkejut. Bahkan mungkin, menurut saya, penghargaan ini agak
terlambat. Seharusnya ia memperoleh predikat itu sejak beberapa tahun lalu.

Mengapa? Banyak studi yang menunjukkan bahwa salah satu pilar utama stabilitas makroekonomi Indonesia adalah stabilitas fiskal.

Ketika Sri Mulyani kembali ke Indonesia untuk menjadi Menteri Keuangan pada tahun 2016, ia memastikan bahwa kebijakan fiskal kita kredibel. Secara berani ia memotong anggaran sekitar Rp140 triliun, untuk memastikan bahwa anggaran pemerintah realistis, kredibel dan memberikan fondasi yang kokoh bagi struktur ekonomi Indonesia.

Tentu tak semua setuju. Kebijakan ini dianggap procyclical, tidak mendorong pertumbuhan. Padahal dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, yang harus dilakukan adalah ekspansi fiskal.

Sri Mulyani: Dua hal bisa cegah korupsi seperti kasus e-KTP
IHSG tembus 5.300: Efek Sri Mulyani?
Sejumlah pekerjaan rumah menunggu Menkeu Sri Mulyani
Kritik ini tentu saja ada benarnya. Namun jangan dilupakan, sebelum ekspansi fiskal dapat dilakukan, harus dipastikan dulu, bahwa anggaran pemerintah berkelanjutan (sustainable). Bila tidak, itu akan membahayakan perekonomian.

Kita belajar dari pengalaman Brazil, bagaimana defisit anggaran yang tak terjaga mengakibatkan perekonomian Brazil terpuruk, terutama setelah Taper Tantrum 2013.

Kita juga belajar dari pengalaman Yunani, bahwa defisit anggaran yang dibiayai oleh utang yang terlalu besar membawa perekonomian mereka kedalam krisis.

Selain itu, tentu kita harus mencatat: bahwa defisit anggaran di Indonesia yang meningkat tajam tahun 2015-2016, lebih disebabkan oleh rendahnya realisasi penerimaan pajak, akibat target pajak yang terlalu tinggi. Dan ini menggoyahkan kepercayaan orang kepada fondasi makroekonomi kita.

Sri Mulyani mengembalikan keberhati-hatian fiskal (fiscal prudence).
Saya ingat, dalam sebuah diskusi informal dengan Sri Mulyani, saya mengatakan beruntung sekali langkah itu diambil sebelum Trump menjalankan kebijakan pemotongan pajaknya dan sebelum the Fed merencanakan untuk mempercepat kenaikan bunga. Bila tidak, kekuatiran akan fiskal yang tak kredibel akan mendorong arus modal keluar jauh lebih besar dibanding beberapa waktu lalu.

Tentu kita harus mencatat: ke depan kebijakan fiskal harus bergerak lebih dari sekedar penopang stabilitas makro, itu harus menjadi instrumen countercyclical dalam perekonomian. Namun ia membutuhkan tahapan.

Kita sudah mulai melihat arah itu sekarang. Pertumbuhan ekonomi 2018 berpeluang untuk tumbuh lebih baik dibanding tahun 2017. Fondasi makro yang baik membantu hal ini.

Kebijakan fiskal procyclical adalah saat pemerintah memilih untuk meningkatkan belanja negara dan mengurangi pajak ketika ekonomi sedang baik, namun mengurangi belanja dan meningkatkan pajak saat resesi.

Sebaliknya, kebijakan fiskal countercyclical, pemerintah mengurangi belanja dan meningkatkan pajak selama ekonomi sedang baik, dan mengurangi belanja dan memotong pajak selama resesi.
Mungkin karena hal ini, Sri Mulyani pantas dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit.

Namun bagi saya, Sri Mulyani melangkah lebih jauh dari itu.
Ia tak hanya melakukan tugas utama Menteri Keuangan: memastikan kesinambungan fiskal dan menggunakan fiskal sebagai instrumen untuk pertumbuhan, stabilitas dan alokasi anggaran untuk mencapai target pembangunan seperti mengurangi kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

Sri Mulyani bergerak lebih jauh. Dan hal ini dilakukannya jauh sebelum ia mendapatkan penghargaan ini.(bbc/tb)    


Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply