Bentrokan Terbaru Gaza-Israel: 10 Orang Warga Palestina Tewas - Sumber Informasi Dunia

Bentrokan Terbaru Gaza-Israel: 10 Orang Warga Palestina Tewas

Share This

BINTANGNEWS.com – Sepuluh orang warga Palestina tewas dalam bentrokan terbaru dengan aparat militer Israel di perbatasan Gaza-Israel, kata seorang pejabat kementerian kesehatan Palestina.
Militer Israel mengatakan pihaknya melepaskan tembakan saat sebagian pengunjukrasa berusaha menerobos pagar pembatas di perbatasan.

Para pengunjuk rasa menuntut agar mereka diizinkan kembali ke tanah leluhurnya yang sekarang berada di wilayah Israel.

Namun Israel mengatakan kelompok militan Hamas, yang menguasai wilayah Gaza, berada di balik unjuk rasa untuk melancarkan serangan ke Israel.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres telah meminta semua pihak agar "menghindari konfrontasi dan menahan diri" setelah 16 orang terbunuh dan ratusan lainnya terluka saat kerusuhan pekan lalu.

Dalam kerusuhan terakhir, salah-seorang yang tewas adalah Yasser Murtaja, seorang jurnalis dari Kantor Berita Ain Media yang berkantor di Gaza, ungkap Kementerian kesehatan di Gaza.
Selama unjuk rasa, para pendemo menumpuk ban dan kemudian membakarnya, sehingga mengeluarkan asap hitam, untuk menganggu pandangan para penembak jitu Israel.

'Israel merampok masa depan kami'
Dikutif BBC Indonesia, unjuk rasa terbaru orang-orang Palestina ini digelar pada hari Jumat lalu di lima lokasi sepanjang 65 km di perbatasan Israel-Gaza.

"Israel telah merampok milik kami semua: tanah air, kebebasan, dan masa depan kami," kata seorang pengunjuk rasa berusia 27 tahun, Samer, kepada Kantor berita Reuters.

"Saya punya dua anak - laki-laki dan perempuan - dan jika saya mati, Tuhan akan merawat mereka."

Para pengunjukrasa melemparkan batu dan bom molotov ke arah pasukan Israel yang berada di tanggul pada sisi perbatasan Israel, kata pejabat militer Israel.

Mereka ditempatkan di atas tanggul untuk menahan agar para pendemo tidak menerobos pagar pembatas di perbatasan.

"Pasukan kami menggunakan sarana untuk mengatasi kerusuhan dan kami melepaskan tembakan sudah sesuai aturan yang berlaku," kata pejabat militer Israel tersebut.

'Mereka berusaha menerobos perbatasan'
Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun termasuk di antara mereka yang tewas akibat tembakan pasukan Israel, dan lebih dari 1.300 orang lainnya terluka.

Kasus kematian pertama dilaporkan terjadi di wilayah Khan Yunis, di selatan wilayah Gaza.

Radio Angkatan Darat Israel mengutip keterangan pejabat militer yang mengatakan bahwa sekelompok orang pengunjukrasa berusaha menerobos pagar perbatasan sehingga pasukan Israel melepaskan tembakan untuk mencegah aksi itu.

Kelompok Hamas dan kelompok-kelompok lainnya menggelar aksi protes selama enam minggu, yang disebut Pawai untuk Kembali.

Protes dilakukan menjelang peringatan 70 tahun pendirian negara Israel dan eksodus orang-orang Arab - yang oleh warga Palestina disebut sebagai "Nakba" (Bencana).

Aksi ini sekaligus menyerukan hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah yang mereka tinggalkan atau dipaksa pergi pada 1948 ketika negara Israel didirikan.

'Kelompok teroris'
Pemerintah Israel telah lama mengesampingkan tuntutan orang-orang Palestina tersebut dan menyebut aksi protes tersebut dilakukan oleh kelompok teroris yang berusaha menerobos perbatasan secara ilegal.

Otoritas Palestina menyebut unjuk rasa yang tidak menggunakan senjata itu justru disikapi dengan kekerasan oleh militer Israel, sehingga menimbulkan belasan orang korban tewas, seperti yang terjadi pada pekan lalu.

PBB dan Uni Eropa telah menyerukan penyelidikan independen terhadap apa yang disebut sebagai tindakan sewenang-wenang militer Israel.

Juru bicara Komisioner tinggi PBB untuk HAM memperingatkan, berdasarkan hukum internasional, senjata api hanya dapat digunakan dalam kasus-kasus yang sangat mendesak.

Komentar pegiat HAM Israel
Kelompok hak asasi manusia Israel B'Tselem menyerukan kepada tentara Israel untuk tidak menembak para demonstran yang tidak bersenjata.

Adapun pemerintah AS menyalahkan para pemimpin Palestina yang disebut "menyerukan aksi kekerasan atau mendorong pengunjuk rasa - termasuk anak-anak - mendekati pagar pembatas, padahal mereka mengetahui bahwa itu bisa mengakibatkan kematian atau terluka".

Kementerian luar negeri Israel mengatakan sebagian besar korban yang tewas pada pekan lalu adalah anggota kelompok miliran Hamas, yang diklaim sebagai organisasi teroris oleh Israel, AS dan Uni Eropa.

Keluarga korban yang tewas dapat santunan?
Hamas telah mengakui bahwa beberapa anggota sayap militernya, tetapi mengatakan mereka melakukan unjuk rasa "berdampingan dengan orang-orang Palestina lainnya".

Kelompok itu dilaporkan akan membayar £2.140 atau sekitar Rp18juta kepada keluarga siapa saja yang ditembak mati oleh pasukan Israel saat unjuk rasa.

Seorang pimpinan Hamas, Mohammed Thuraya, membantah pihaknya memberikan "label harga" pada korban yang tewas.

"Ini adalah kewajiban kami kepada rakyat kami, untuk meringankan penderitaan mereka," katanya kepada New York Times.(jon)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com

Post Bottom Ad

Pages