4 Hal yang Perlu Diketahui dalam Pertemuan Trump-Kim Jong-un


BINTANGNEWS.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sepakat bertemu di Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni mendatang, usai hubungan naik-turun yang sempat menutup peluang dialog bilateral di antara mereka.
Jika pertemuan di Pulau Sentosa itu akhirnya benar-benar terlaksana, perjumpaan itu akan menjadi yang pertama antara presiden AS dan pemimpin Korut.

Bill Clinton, tahun 2009, datang ke Pyongyang, dalam misi pembebasan dua warga AS yang ditahan otoritas keamanan Korut. Tapi kala itu ia menginjakkan kaki di Korut delapan tahun setelah menyandang status mantan orang nomor satu AS.

Korut disebut beberapa kali pernah menjajaki pertemuan bilateral dengan presiden AS. Namun upaya itu kandas, terutama karena isu senjata nuklir Korut.

Semasa kampanye pemilihan presiden AS, Trump menilai AS sepatutnya lebih memperhatikan Korut. Meski menyebut Kim sebagai seorang maniak, Mei 2016, Trump menyatakan bersedia bertemu dan bernegoisasi dengan Kim.

Adapun, pertemuan di Pulau Sentosa akan menjadi kelanjutan babak baru citra Kim Jong-un. Pemimpin besar ketiga Korut itu dinilai terus memupuk status sebagai figur yang berpengaruh secara global.


"Situasi ini berbeda dengan debutnya sebagai pemimpin Korut yang kita saksikan tahun 2010, saat Kim tampil dengan status 'bukan siapa-siapa', pewaris kekuasan yang bertampang anak-anak," kata Jean Lee, bekas editor Associated Press di Pyongyang.

Dalam dua bulan terakhir, Kim telah melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.

Seiring rencana perjumpaannya dengan Trump, Kim diundang Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertamu ke Vladivostock, September mendatang. Presiden Suriah Bashar al-Assad juga telah mengumumkan niatnya menemui Kim di Pyongyang.

Apa keinginan Kim?
Wartawan BBC di Seoul, Laura Bicker, menyebut Kim akan memperjuangkan tiga isu di Pulau Sentosa, yaitu keamanan, kehormatan, dan kesejahteraan Korut.

Menurut Bicker, setelah susah payah membangun kekuatan nuklir selama beberapa dekade terakhir, Korut tidak akan begitu saja menghentikan program persenjataan mereka. "Mereka ingin timbal balik," ucapnya.

Selama ini, AS secara berkala mengirim armada perang mereka ke perairan Korea. Mereka bahkan memiliki pangkalan militer di Korea Selatan. Saat bertemu Trump, Kim dinilai bakal meminta AS menihilkan seluruh alutsista dari kawasan itu.

Terkait kehormatan Korut, Kim juga disebut ingin membalikkan citra negaranya yang selama ini dianggap menutup diri dari dunia internasional dan tak mengakui hak asasi manusia.

"Ada indikasi Kim ingin Korut disejajarkan dengan AS, Rusia, Cina, dan Korea Selatan," kata Bicker.

Adapun, soal kesejahteraan, Kim mencanangkan tahun 2018 sebagai momen mengeluarkan gebrakan baru sebagai penggerak perekonomian.

Selama ini, sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS kepada Korut merupakan salah satu faktor yang menghentikan roda perekonomian negara itu.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebut pendapatan per kapita masyarakat Korea Utara sebesar US$1.800 atau sekitar Rp24,9 juta dalam setahun.

Sebagai perbandingan, pendapatan per kapita Indonesia adalah US$3.634 atau Rp50,4 juta, semetara Korea Selatan sebesar US$24.079 atau Rp334 juta.

"Saya sangat yakin Korea Utara memiliki potensi besar serta akan menjadi kekuatan ekonomi dan finansial besar suatu hari nanti," kata Trump melalui akun Twitternya.

Janji Trump untuk Korut?
Pertemuan Trump dan Kim di Singapura pekan depan nyaris dibatalkan setelah John Bolton, penasehat keamanan Gedung Putih, mengeluarkan pernyataan yang ternyata melukai Korut.

Bolton berpendapat, AS sebaiknya mendesak Korut mengulang strategi mereka kala mendesak Libya menghentikan seluruh program nuklir era Muammar Gaddafi.

Setelah AS mengirim pasukan perang ke Libya, Gaddafi digulingkan dari kekuasaan dan tewas dibunuh massa di jalanan.

Namun Trump buru-buru meredam polemik dan menyebut AS tidak akan menduduki Korut atau menjatuhkan Kim, demi penghentian program nuklir.

"Di Libya, kami menghancurkan negara itu, tidak ada kesepakatan tentang Gaddafi. Model Libya yang disebut adalah kesepakatan yang sama sekali berbeda."

"Kim akan tetap berada di negaranya, dia akan terus menjalankan pemerintahannya, dan negaranya akan menjadi sangat sejahtera," ujar Trump, 17 Mei lalu.

Mengapa Singapura?
Lima hari jelang pertemuan Trump dan Kim, tidak ada jawaban pasti soal pemilihan Singapura. Namun, negara itu sebelumnya pernah menjadi lokasi pertemuan bersejarah antara Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou.

Pada 2015, Xi dan Ma berjumpa di Hotel Shangri-La Singapura. Itu adalah pertemuan pertama dua pemimpin politik Cina dan Taiwan setelah Mao Zedong dan Chiang Kai-shek tahun 1945.

Selasa lalu, Kepala Biro Pers Gedung Putih, Sarah Sanders, mengumumkan pertemuan Trump dan Kim akan digelar di Hotel Capella.

Dua dari sejumlah bangunan di hotel itu dibangun pada dekade 1880-an untuk pejabat Angkatan Perang Inggris yang ditempatkan di Pulau Sentosa. Sekitar tahun 1942, Jepang menjadikan Sentosa sebagai penjara untuk tentara Sekutu, terutama Inggris dan Australia.

Reuters menyebut pemerintah Singapura memperketat keamanan dalam negeri, terutama wilayah udara mereka jelang pertemuan tanggal 12 Juni.

Penerbangan dari dan menuju Singapura dari 11 hingga 13 Juni akan mengalami pemunduran jadwal. Pesawat yang mendarat di Bandara Changi pun diharuskan mengurangi kecepatan.

Sebagian wilayah Singapura akan segera dikosongkan dari 10 sampai 14 Juni. Kawasan itu akan menjadi basis delegasi AS.

"Pertemuan di Singapura dengan Korut semoga akan menjadi awal sesuatu yang besar. Kita nantikan," cuit Trump.

Persiapan sudah matang?
Jelang pertemuan di Singapura, Trump menjamu beberapa tamu penting di Gedung Putih. Jumat pekan lalu ia bertemu Jenderal Kim Yong-chol, pejabat tinggi Korut yang kerap disebut sebagai tangan kanan Kim.

Sumber BBC Indonesia, Kim Yong-chol adalah perwakilan Korut pertama yang menginjakkan kaki di pusat pemerintahan AS dalam 20 tahun terakhir. Ia menyerahkan surat beramplop besar dari Kim kepada Trump.

Usai jamuan terhadap jenderal Korut itu, Trump menyatakan pertemuan bilateral dengan Kim di Singapura akan direalisasikan. Padahal, delapan hari sebelumnya ia membatalkan agenda tersebut.

Kamis ini, Trump menjamu Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe di Gedung Putih. Pertemuan keduanya diyakini berhubungan erat dengan agenda di Singapura.

Sebelum terbang ke AS, Abe menyebut akan membahas isu nuklir, misil jarak jauh serta penculikan yang dikembangkan dan dilakukan Korut.

Selama dekade 1970 hingga 1980-an, Korut dituduh menculik sekelompok warga Jepang untuk melatih agen telik sandi mereka berbahasa dan memahami tradisi negara matahari terbit.

Seluruh diplomat, baik dari AS, Korut, dan Singapura, telah dan sedang melakukan perjalanan udara ke beberapa negara untuk menyukseskan pertemuan Trump dan Kim.(win)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com


Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply