Di Moskow tak Ada Gema Suara Lain Kecuali Nama Pelati Rusia


BINTANGNEWS.com – Tak ada nama lain yang menggema di Luzhniki Stadium, Moskow, dan juga di seluruh kota di Rusia tadi malam. Seluruh warga negeri Beruang Merah merayakan lolosnya tim ini ke perempat final Piala Dunia 2018 setelah menjinakkan Spanyol
lewat adu penalti, 4-3 (1-1). Pelatih Stanislav Cherchesov dan kiper Igor Akinfeev disanjung sebagai pahlawan.

Cherchesov kehilangan kata-kata. Ini lantaran Tim Matador adalah favorit. Dia melayangkan sanjungan dan mengapresiasi pasukannya. Beruang Merah telah mencetak sejarah, untuk pertama kalinya mereka melaju ke perempat final Piala Dunia. Sebelumnya Rusia tidak pernah sekalipun menyentuh fase knock-out. Pada edisi 1994, 2002, dan 2014 Tim Beruang Merah selalu kandas di babak gugur.

Dia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Rusia yang terus memberikan dukungan. "Saya bangga dengan apa yang mereka tunjukkan. Ini adalah pertandingan penting, dan support besar dari masyarakat sangat berarti," paparnya.

Dia menambahkan, prestasi Rusia bukan hanya sejarah yang dicetak oleh Aleksandr Samedov dkk tapi juga keberhasilan negara ini menggelar ajang sepak bola terakbar di dunia.  "Dunia melihat betapa rapinya Rusia menghelat Piala Dunia 2018. Saya berharap lebih banyak orang datang ke Rusia dan merasa aman," imbuhnya.

Lolosnya Rusia ke 16 besar saja sudah dianggap sebagai kejutan. Apalagi Cherchesov menyadari awalnya pasukannya hanya diunggulkan lantaran Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia. Apalagi pada ranking FIFA, Rusia berada di urutan 70 alias yang terendah dibandingkan partisipan lain di Piala Dunia 2018.

Rasa gembira, haru, bangga mengalir di seluruh nadi warga Rusia. Tidak hanya di Moskow tempat laga digelar tapi juga Saint Petersburg, Kazan, Sochi dan  seluruh wilayah Rusia. Sikap bangga akan timnasnya yang ditunjukkan suporter, amat terasa di berbagai kota. Di Saint Petersburg, membanjiri masyarakat di jalan-jalan utama kota indah tersebut.

Dilansir Sindonews, di Moskow pencinta Beruang Merah tumpah ruah di Kremlin, Lapangan Merah dan sejumlah jalan protokol. Mereka menyerukan yel-yel ‘RUSIA! RUSIA! RUSIA! Sembari mengibarkan bendera negara itu mereka juga melantunkan lagu patriotik Katyusha. Pengemudi di jalan raya tak henti menekan klakson.

Di Kazan, lebih dari 500.000 orang memadati FanFest di tengah kota tersebut. Dengan tiga layar raksasa, pendukung Beruang Merah bisa memilih untuk mendukung timnas kesayangan mereka di tiga lokasi berbeda yang berada dalam satu kompleks. Jumlah penonton tersebut merupakan rekor terbaru FanFest.

"Antusiasme masyarakat amat besar. Ini adalah pertandingan babak gugur pertama Rusia, kami sangat bangga," ujar Stas, pendukung Rusia yang berada di FanFest Kazan.  

Jalannya pertandingan berlangsung alot. La Furia Roja – julukan Spanyol- unggul pada menit ke-11 setelah terjadi kemelut di mulut gawang Rusia. Bola menyentuh betis bek Sergei Ignashevich dan mengarahkannya ke jalanya sendiri. Sergio Ramos yang berada dekat pemain CSKA Moscow tersebut langsung melaakukan selebrasi. 

Rusia bukannya tanpa peluang. Namun rapinya kuartet Nacho Fernandez – Gerard Pique – Sergio Ramos – Jordi Alba, membuat sarang David de Gea aman dari serbuan Artem Dzyuba yang mengandalkan serangan balik. Bola terlalu mudah direbut oleh barisan pertahanan Spanyol.  Salah satu peluang terbaik yang didapat pasukan Cherchesov adalah saat Aleksandr Golovin melepaskan tendangan ke arah De Gea pada menit ke-35. 

Pada menit ke-39, bola menyentuh tangan Pique, akibat dari tandukan salah satu penggawa Rusia. Wasit pun penunjuk titik putih.  Dzyuba yang ditunjuk sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna.

Gol tersebut melecut semangat Beruang Merah. Aleksandr Samedov dkk semakin agresif jelang turun minum. Di paruh kedua, kedua tim sama-sama menaikkan tempo serangan. Kedudukan tidak berubah saat  90 menit plus   perpanjangan waktu dilakukan. Laga pun harus diselesaikan dengan adu penalti.

Dukungan jutaan warga Rusia dirasakan para penggawa Beruang Merah. Dengan ketenangan luar biasa empat algojonya sukses menjebol gawang De Gea. Sementara hanya tiga dari lima Matador yang mampu merobek jala Akinfeev.

Sedangkan bagi Spanyol, hasil ini menutup  jalan untuk kembali memeluk trofi Piala Dunia. La Furia Roja untuk pertama kali dan terakhir menjadi juara dunia pada edisi 2010. Saat itu, Andres Iniesta dkk berjaya di Afrika Selatan. Empat tahun kemudian di Brasil mereka terkena kutukan Piala Dunia yakni juara bertahan angkat kaki di fase grup. Prestasi terbaik Spanyol di ajang ini, selain juara pada edisi 2010 adalah semifinalis pada Piala Dunia 1950, selebihnya hanya menyentuh perempat final.

Walau Spanyol berhasil menepis isu perpecahan, tapi hasil di lapangan tetap tak maksimal. Seperti diketahui Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) memecat pelatih  Julen Lopetegui  lantaran menerima pinangan Real Madrid dua hari jelang laga pertama Sergio Ramos dkk di Piala Dunia. Keputusan Lopetegui dan  RFEF sama-sama mengejutkan. Tapi, RFEF tidak bisa membuang waktu. Apalagi La Furia Roja memiliki misi besar di Rusia; kembali merebut trofi supremasi sepak bola apling agung di dunia. 

RFEF lalu menunjuk Fernando Hierro. Bukan nama asing bagi La Furia Roja. Hierro yang berarti besi, diharapkan bisa merangkul para pemain dan memimpin tim Matador untuk mengeluarkan kekuatan terbesar mereka. Sebelum mendapat mandat dari RFEF, Hierro menjabat sebagai Direktur Olahraga untuk dua periode, yakni pada 2007 – 2011. Lalu, dia kembali ke posisi tersebut September tahun lalu. 

Dia juga sempat menjadi asisten pelatih Real Madrid pada Juli 2014 menggantikan Zidane. Dia juga pernah menukangi Real Oviedo. Namun, lantaran tim itu gagal promosi ke Primera Liga maka, Hierro dan Oviedo pun berpisah.(jon)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply