Kim dan Jinping Setuju Pasukan AS Ditarik dari Korsel - Sumber Informasi Dunia

Kim dan Jinping Setuju Pasukan AS Ditarik dari Korsel

Share This

BINTANGNEWS.com – Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dan Presiden China Xi Jinping setuju jika pasukan Amerika Serikat (AS) ditarik dari Korea Selatan (Korsel) dalam pertemuan ketiga mereka. Demikian laporan yang diturunkan media Jepang, Asahi Shimbun.
Menurut Asahi Shimbun kedua pemimpin itu sepakat untuk bekerja sama secara strategis dengan tujuan bersama untuk memindahkan 28.500 tentara AS di Korsel. Kesepakatan ini terjadi pasca Presiden AS Donald Trump menghentikan latihan perang bersama Korsel serta menyebutnya sebagai tindakan sangat provokatif dan berbiaya mahal.

Sumber Asahi, digambarkan sebagai ahli dalam urusan China-Korut, mengatakan Beijing dan Pyongyang juga setuju untuk mengulur waktu mereka dan tidak terburu-buru bernegosiasi dengan Washington.

Dilansir Sindonews, laporan itu muncul sehari sebelum kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Pyongyang, perjalanannya yang diketahui ketiga kalinya ke Korut.

China dan Korut melihat kesempatan untuk meminta pasukan AS untuk pergi jika dan ketika perjanjian damai ditandatangani.

Menurut Asahi jika perjanjian perdamaian tercapai antara Washington dan Pyongyang akan mengakhiri Perjanjian Gencatan Senjata 1953. Perjanjian itu juga menjadi dasar argumen bagi Korut untuk meminta penarikan pasukan.

"Setelah penandatanganan perjanjian potensial, Jong-un kemungkinan akan meminta Trump untuk menarik pasukan AS, tetapi masih bisa membiarkan opsi terbuka, seperti yang dilakukan ayahnya, Kim Jong-il, selama pemerintahannya," kata sumber Asahi seperti dikutip dari UPI, Kamis (5/7/2018).

Kantor berita Pyongyang yang dikendalikan negara, KCNA, bulan lalu mengatakan Xi Jinping dan Kim Jong-un membahas "kerja sama strategis dan taktis" antara kedua negara.

Amerika Serikat dan Korea Selatan telah sepakat untuk membatalkan latihan berskala besar pada Agustus, tetapi Panglima Angkatan Laut AS Jenderal Vincent Brooks mengatakan pelatihan itu ditangguhkan untuk menghindari provokasi yang tidak perlu, lapor Hankyoreh.

"Keputusan itu diperlukan untuk membuka jalan bagi diplomasi," kata Brooks.(reff)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com

Post Bottom Ad

Pages