Ahli Psikologi: Gila Belanja, Apakah Penyakit Kejiwaan? - Sumber Informasi Dunia

Ahli Psikologi: Gila Belanja, Apakah Penyakit Kejiwaan?

Share This

BINTANGNEWS.com – Ahli psikologi klinis dari Hannover Medical School Jerman, Profesor Astrid Mueller, melontarkan pernyataan yang menggelitik, "Orang yang kecanduan belanja, sebenarnya sedang
mengalami gangguan kejiwaan," demikian poin gagasan Mueller, yang dipublikasikan di laman Independent, Rabu 8 Agustus 2018.

Kecanduan belanja yang dimaksud Mueller tersebut, mengarah pada Compulsive Buying Disorder (CBD) atau gangguan belanja kompulsif.

"Sudah waktunya, untuk mengenali gangguan belanja kompulsif sebagai suatu gangguan kesehatan mental, sehingga kami dapat membantu mengembangkan metode perawatan dan diagnosis yang lebih baik," kata Mueller.

Dikutif Viva.co.id, Istilah lain untuk CBD adalah oniomania. Mengutip Wikipedia, oniomania berasal dari Bahasa Yunani 'onios' yang artinya dijual, dan 'mania' yang bermakna kegilaan. Para ahli menggambarkan, seorang oniomania dapat memiliki keinginan yang sangat menggebu-gebu untuk membeli barang, hingga hilang kendali terhadap diri sendiri.

Memperkuat pernyataan Mueller, ahli kejiwaan yang biasa menangani kasus kecanduan, Profesor Mark Griffiths dari Nottingham Trend University setuju bahwa memang benar ada kalangan orang yang cenderung belanja secara kompulsif. "Sekarang ada bukti yang benar bahwa sejumlah kecil orang terlibat dalam pembelian kompulsif," ujarnya.

Salah satu faktor yang memicu seseorang menjadi oniomania adalah keinginan untuk mengekspresikan diri. Saya jadi teringat film Confession of Shopaholic (2009). Film itu mengisahkan Rebecca Bloomwood (Isla Fisher), seorang wartawan majalah yang tinggal di Manhattan, New York.

Gaya berpakaiannya sangat modis, khas wanita kelas atas kota besar di Amerika. Di tubuh Rebecca, melekat pakaian, tas, sepatu, dan aksesori bermerek. Dua kata untuk kesan pertama penampilan Rebecca, cantik dan berkelas. Tetapi, semua itu ia dapatkan dari berutang melalui sederet kartu kredit di dompetnya.

Di depan etalase toko yang memajang pengumuman 'diskon', Rebecca bisa mabuk kepayang. Bak anak kecil mendamba gulali, sorot matanya mengekspresikan kecintaan dan harapan mendalam pada barang-barang bermerek.

Ia selalu gagal menahan diri untuk tidak membeli, meski dibayar dengan cara menguras pagu kartu kredit. Bahkan, saat itu Rebecca menjadi buronan debt collector karena belum melunasi tagihan hutang-hutangnya.

Perjalanan Rebecca, lantas berujung pada sebuah rumah terapi untuk orang-orang yang kecanduan belanja, Shopaholic Anonymous. Di sana, Rebecca bertemu dengan sekelompok teman senasibnya untuk menjalani konseling di bawah bimbingan Miss Korch, meski pada akhirnya tidak berhasil.

Ilustrasi belanja.

Kisah Rebecca tersebut hanya sebagai penggambaran sosok yang sangat gila belanja. Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Istilah oniomania sepertinya masih belum familiar. Tetapi, kita tentu sering mendengar tentang perilaku konsumtif. Keduanya memiliki kecenderungan yang sama, mengeluarkan uang untuk membeli barang dan jasa untuk memberi kepuasan emosional.

Berdasarkan data Kadence International tahun 2013, 28 persen orang Indonesia punya pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan bulanan. Bahkan, rata-rata orang Indonesia mengalami defisit sekitar 35 persen dari pemasukan. Meski 'bangkrut', penghasilan mereka tidak kecil. Kadang malah gaji mereka lebih besar ketimbang kelompok lain. Tetapi, gaya hidup yang menuntut mereka untuk lebih besar pasak daripada tiang.

Adakah di antara Anda yang terjebak dalam gaya hidup seperti Rebecca yang cenderung belanja kompulsif sampai rela berhutang, atau termasuk dalam kelompok seperti data Kadence International tersebut? Hal itu tentu biar menjadi rahasia Anda saja, ya. Mari kita bahas lebih jauh oniomania dari sudut pandang psikologis.

Faktor penyebab

Jika Profesor Astrid Mueller menyatakan bahwa orang-orang yang gila belanja mengalami gangguan mental, psikolog dari NTO International, Novita Tandry, M. Psych, memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, kegemaran belanja dikatakan memasuki ranah gangguan kejiwaan, apabila telah mengganggu finansial orang yang bersangkutan dan orang-orang di sekitarnya.

"Kita harus lihat sudah sampai sebatas apa, dikatakan gangguan kejiwaan kalau sudah sampai dia tidak bisa lagi memperhitungkan pengeluaran dan pemasukannya, sampai berutang sana-sini, demi belanja, kondisi keuangannya porak-poranda, sudah jatuh miskin pun masih ingin terus belanja, dan ia tidak sanggup membayar, itu bisa jadi disorder atau dikatakan gangguan kejiwaan," kata Novi dalam sambungan telepon pada VIVA, Rabu 8 Agustus 2018.

Faktor yang menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan belanja kompulsif, salah satunya adalah dorongan mencari kesenangan. Ada ruang kosong dalam jiwanya yang berusaha ia tutupi dengan membeli barang-barang untuk mencapai kepuasan. Selain itu, mereka juga seringkali tidak memiliki makna dan tujuan hidup yang jelas, dan kecerdasan emosi yang tidak terbentuk dengan baik.

Menurut jurnal Pshychology and Marketing Vol. 19 No. 5 tahun 2002, orang yang meragukan dirinya sendiri dan harga dirinya, cenderung menjadi materialistis. Rasa kurang percaya diri tersebut menyebabkan seseorang untuk mencari kompensasi, misalnya berusaha tampil menarik dengan harapan orang lain akan memberi pengakuan dan nilai lebih padanya.

Tekanan pergaulan (peer pressure) juga turut memengaruhi seseorang menjadi belanja secara kompulsif. Coba kita bayangkan, misalnya kita bergaul dengan kelompok pertemanan yang pecinta merek tas tertentu, atau penggemar sepatu impor. Mau tidak mau atau lama-kelamaan kita juga akan ikut terpengaruh menyukai atau mengoleksi barang seperti mereka. Sering kali demikian, apabila kita tetap mau diterima di lingkaran pergaulan itu.

"Sekeliling teman juga memengaruhi, apa yang dilihat dari orang lain, supaya bisa diterima di status sosial tertentu, dengan cara apa pun, tetapi ya besar pasak daripada tiang," ujar Novi.

Faktor lainnya, yaitu media sosial. Terlebih bagi generasi milenial yang tidak terlepas dari postingan di berbagai akun, Instagram salah satunya. Ada semacam tuntutan tidak kasat mata bahwa untuk menjadi eksis, maka harus punya sesuatu yang bisa dipamerkan di media sosial, entah pakaian baru untuk diunggah dengan hashtag OOTD (outfit of the day), tas baru, kosmetik baru, atau jelajah kuliner dengan mencoba nongkrong di kafe-kafe.

Menariknya, pola asuh orangtua juga ikut berperan menjadikan seseorang tipe pembelanja kompulsif. Ditegaskan Novi, orangtua luput dari memberi pemahaman pada anak, terkait mana kebutuhan dan mana keinginan. "Bisa juga sejak kecil tidak dididik, untuk membeli apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Apa itu need apa itu want. Kalau anak-anak tidak diajarkan sejak kecil, mereka akan rancu atau bias," kata Novi.

Selamatkan uangmu

Seperti layaknya orang yang menderita gangguan jiwa lainnya, individu dengan oniomania juga tidak menyadari bahwa dirinya mengalami penyakit mental. "Namanya orang gangguan jiwa biasanya dia sendiri tidak sadar. Orang lain yang mulai terusik dan terganggu, misalnya orang terdekat ikut menanggung beban biaya yang ia keluarkan," jelas psikolog dari NTO International, Novita Tandry, M. Psych.

Di era modern yang serba digital seperti sekarang ini, godaan untuk belanja datang dari berbagai arah. Industri dan kapitalisme seolah tiada berhenti memancing siapa pun untuk terus-menerus membeli barang. Setiap bulan, tahun, atau pada siklus tertentu, industri secara rutin mengeluarkan barang baru, sehingga kita tak pernah puas, dan selalu mau lebih.

Menabung

Terutama bagi oniomania, situasi demikian tentu bisa menjadi bahaya jika tidak ada formula yang menjadi benteng diri. Maka itu, saran dari Novi berikut ini dapat dipraktikkan, jika belum dapat menyembuhkan kegilaan pada belanja, setidaknya pelan-pelan menyelamatkan kondisi keuangan dan kejiwaan.

1. Tingkatkan kecerdasan religi.
2. Mencari makna, arti dan tujuan hidup.
3. Jauhi orang atau tempat yang mendorong untuk belanja. Inilah pentingnya memilih teman dan pergaulan. Teman yang baik akan memberi pengaruh pula pada kepribadian kita.
4. Buat daftar saat belanja, dan patuhi. Tahan keinginan belanja di luar daftar.
5. Ketika muncul keinginan membeli sesuatu, tahan dulu dan pikirkan apakah memang dibutuhkan. Harus paham dan jelas batasan butuh dan ingin.
6. Jangan belanja saat sedang sedih, marah, atau kecewa.
7. Cari aktivitas lain yang bisa menggantikan kesenangan belanja, misalnya yoga, bersepeda, atau ke gym.
8. Jangan bawa kartu kredit, kalau perlu ditutup saja. Dan bawa uang tunai secukupnya saja
.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di Twitter @Bintangnews.com  


Post Bottom Ad

Pages