Melacak Investor Cina Pemilik Pesawat Lion Air - Sumber Informasi Dunia

Melacak Investor Cina Pemilik Pesawat Lion Air

Share This

BINTANGNEWS.com – Agensi berita China News Service (CNS) mengatakan, sebuah perusahaan Cina bernama China Minsheng Investment Group (CMIG) Leasing Holdings Ltd merupakan pemilik pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10).
Perusahaan menyewakan pesawat dengan jenis Boeing 737 Max 8 itu ke maskapai, seperti dilansir di Washington Post, Kamis (1/11).

CNS mengutip, CMIG Leasing turut berduka mendalam terhadap kecelakaan tersebut. Perusahaan juga menyampaikan hubungannya yang dekat dengan Lion Air, Boeing, dan organisasi lain.

CMIG Leasing mengatakan, penyewaan pesawat bukanlah sesuatu yang baru dan mencengangkan. Sudah menjadi hal umum bagi maskapai penerbangan untuk mendapatkan pesawat besar melalui penyewaan dengan perusahaan ketiga.

Dilansir Republika.co.id CMIG Leasing sendiri adalah bagian dari kelompok CMIG yang menangani berbagai sektor. Di antaranya logistik, energi, dan perawatan kesehatan. CMIG dikenal sebagai konglomerat investasi swasta terbesar di Cina. Telah terdaftar dalam Tianjin Pilot Free Trade Zone, perusahaan ini dikenal dengan profitabilitas yang kuat melalui pengembangan internasional dan profesional.

Perusahaan ini memegang tren perkembangan industri leasing, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan menetapkan Hong Kong sebagai pusatnya, CMIG Leasing Group aktif melebarkan sayap ke Tianjin, Shanghai, Irlandia, dan klaster industri penyewaan lain untuk mengalokasikan aset dalam lingkup global. 

Dalam pernyataan yang dirilis Business Insider pada Agustus lalu, CMIG melalui CMIG Aviation Capital mengumumkan pengiriman satu pesawat Boeing 737 Max 8 MSN 43.000 di Seattle untuk dioperasikan Lion Air. Pesawat ini merupakan salah satu dari beberapa transaksi pesawat yang ada.

Chief Executive Officer CMIG Aviation Capital, Peter Sixiang Gao, mengatakan, CMIG bersemangat mendukung Lion Air dengan mengirimkan 737 Max 8. "Dengan keunggulan dan efisiensi bahan bakarnya, Boeing Max 8 ideal mendukung masa depan pertumbuhan Lion Air Group. CMIG akan terus berinvestasi dalam pesawat berteknologi baru dan membangun armada yang lebih muda dan hemat bahan bakar," tuturnya.

CMIG Aviation Capital merupakan bisnis penyewaan pesawat terbang yang berkantor pusat di Tianjin, Cina. Lini bisnisnya mencapai Hong Kong, Irlandia, dan Singapura. Portofolio perusahaan terdiri atas 21 pesawat trunk-liner modern baru yang disewakan dalam jangka panjang untuk 15 maskapai penerbangan di delapan negara dan wilayah.

Agresif Berinvestasi di Penerbangan
Perusahaan ini kerap melakukan investasi secara agresif di sektor penerbangan umum atau general aviation (GA) yang berkembang di Cina. Penerbangan umum merupakan sebutan yang merujuk pada semua penerbangan selain militer dan maskapai terjadwal dan kargo reguler. 'Umum' yang dimaksud berarti mencakup banyak hal dengan fleksibilitas yang tinggi dalam kontribusi pada transportasi udara.

Pimpinan CM International Financial Leasing Co Ltd (CMIFL), bagian dari Minsheng Cina, Wang Rong, mengatakan, penerbangan umum merupaan satu-satunya sektor di Cina yang belum sepenuhnya terbuka.

“Nilai pasarnya mencapai 1 triliun yuan (151 miliar dolar AS),” ucapnya, dilansir di ECNS pada Juni 2016.

Wang mengatakan, penerbangan  umum merupakan satu dari empat bagian bisnis utama CMIF. Pasar helikopter menjadi highlight dari bagian ini.

Pada 17 Juni 2016, CMIFL menerima helikopter pertama dari perjanjiannya untuk membeli 100 helikopter yang ditandatangani setahun sebelumnya dengan Airbus Helicopters. Kesepakatan untuk 100 helikopter seri Ecureuil selama lima tahun ini memberikan kerangka kerja bagi CIMFL untuk menjadi perusahaan penyewaan helikopter pertama dan terbesar di Cina.

Ketua Dewan China Minsheng, Dong Wenbiao, mengatakan, perusahaan sudah membuat rencana lima tahunan yang menargetkan pasar penerbangan penyelamatan medis darurat di Cina. Untuk mencapai hal ini, perusahaan berencana membeli 100 helikopter dan berinvestasi di 100 bandara penerbangan umum. Perusahaan juga akan merekonstruksi 100 rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan pasar medis darurat yang sedang tumbuh.

Kepala Institut Transportasi Udara Ekonomi di bawah Universitas Penerbangan Sipil Cina di Tianjin, Li Xiaojin, menilai, tujuan Minsheng terdengar ambisius. "Tapi, saya pikir Minsheng Cina dapat mencapainya," ujarnya.

Li mengatakan, pasar yang diinginkan Minsheng benar adanya. Cina hanya memiliki sekitar 200 bandara untuk keperluan sipil, lebih sedikit dibanding Amerika Serikat yang mempunyai 500 bandara. Padahal, kedua negara memiliki ukuran yang serupa.

Tapi, Li menilai, agenda lima tahun tampaknya terlalu singkat bagi Minsheng. Sebab, perusahaan akan menghadapi kesulitan dalam membangun fasilitas pendukung daratan yang membutuhkan waktu panjang. Sumber daya manusia pilot juga terbilang belum memadai.

"Keterlambatan membuka wilayah low-altitude, menemukan bakat yang berkualitas dan membangun infrastruktur adalah masalah besar yang dihadapi industri penerbangan umum di Cina," tutur Li.

Didirikan pada 2014, Minsheng Cina merupakan grup investasi swasta internasional dengan modal terdaftar mencapai 50 miliar yuan atau 7,56 miliar dolar AS. Perusahaan ini disebut sebagai China Investment Corp versi swasta yang mengelola dana abadi (sovereign wealth fund/SWF) negara sampai 200 miliar dolar AS.


CMIFL adalah perusahaan patungan yang diluncurkan pada 2015 antara Minsheng Cina dan Hana Bank of Korea Selatan. Modal terdaftarnya mencapai 4,5 miliar yuan atau 680 juta dolar AS.***

.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com



Post Bottom Ad

Pages