Korban Tsunami Selat Sunda Sudah 373 Orang Meninggal, 128 Hilang - Sumber Informasi Dunia

Korban Tsunami Selat Sunda Sudah 373 Orang Meninggal, 128 Hilang

Share This


BINTANGNEWS.com – Tsunami menghantam kawasan Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam Hingga Senin (24/12), berdasarkan catatan BNPB, setidaknya 373 orang meninggal, 1459 luka, 128 hilang, sementara ratusan rumah, sejumlah hotel dan puluhan perahu rusak berat.
Seorang saksi mata di pantai Anyer menyebut, tsunami itu terjadi dengan dua gelombang besar. Wartawan BBC News Indonesia Rivan Dwiastono, Rebecca Henschke dan Haryo Wirawan menyusuri lokasi-lokasi yang dihantam tsunami di Banten.

Kisah Marzuki ditarik ombak dari tengah laut, terlempar ke sawah, dikejar lagi oleh ombak hingga naik pohon.

Marzuki, warga Way Muli, Lampung, sedang mencari cumi di tengah laut ketika melihat Gunung Anak Krakatau meletus. Ia mengatakan letusannya tak seperti biasanya.

"Seperti melihat kembang api, bunyinya keras, seperti petasan, thas, thas, thas, ... lalu keluar asap putih. Sekitar setengah jam kemudian saya ditarik oleh ombak, saya mencoba menepi," kata Marzuki.

Ia mengatakan dirinya dibawa ombak selama beberapa saat hingga merasa dirinya terpental.

"Saya terlempar ke sawah. Saya bangun dan teriak 'tsunami, tsunami' ke warga," katanya.

Dari sawah ini, ia lari sekuat tenaga menyelamatkan diri. Pada saat ia lari, datang gelombang kedua.

Ia melihat tembok dan memanjatnya. Turun dari tembok, ia kembali berlari menjauh dari pantai. Datang gelombang ketiga.

Ia naik ke pohon. "Saya beristigfar (meminta ampun kepada Tuhan). Saya menangis, saya ingat orang tua...," katanya.

Karena ingat orang tua, ia memutuskan untuk turun dari pohon dan pergi ke rumah orang tuanya. Di sana, situasinya berantakan.

"Saya tak menemukan mereka. Saya hanya bisa berharap mereka sudah mengungsi ke tempat aman," katanya.

Melihat orang tuanya tak ada di rumah, ia memutuskan untuk mengecek rumahnya untuk mencari tahu keadaan istri dan anaknya.

"Saya lari menuju rumah. Ternyata rumah sudah rata dengan tanah. Saya tanya ke tetangga di mana istri dan anak saya," kata Marzuki.

Tetangga mengatakan mungkin istri dan anaknya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Ia pun menuju tempat yang dipakai warga untuk menyelamatkan diri. Di sini, sudah ada ribuan orang.

Di antara ribuan warga, ia melihat anak dan istrinya. "Saya sangat bersykur, Allah telah menyelamatkan istri dan anak saya...," katanya.

Ia mengatakan tak masalah harta bendanya hancur, yang penting istri dan anaknya selamat.

Orang tuanya juga selamat meski sempat tertimpa reruntuhan tembok rumah. Orang tuanya menjalani perawatan, namun sekarang sudah diperbolehkan untuk pulang.

Ratusan rumah hancur di Way Muli, Lampung selatan
Kondisi di daerah terparah di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa, Lampung selatan sangat memperihatinkan, lapor wartawan Ahmad Ridho, yang saat bencana terjadi berada di seputar tempat itu.

Ratusan rumah yang berada pinggir pantai hancur rata dengan tanah, sedangkan rumah yang berhadapan bibir pantai, sebagian rusak parah, kata Ridho.

Akses jalan saat ini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat yang akan mambawa bantuan logistik ke daerah bencana, setelah pihak pemerintah menambah armada alat berat untuk menyingkirkan puing-puing rumah yang hancur menutupi badan jalan.

Sampai Senin (24/12), bantuan makanan, pakaian layak pakai datang dari berbagai intansi telah didistribusikan langsung ke pengungsi yang bertahan di dataran tinggi dan perbukitan.

Di daerah ini, data sementara korban jiwa ada sekitar 68 orang dan luka-luka sekitar 360 orang, lapor Ridho.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com


Post Bottom Ad

Pages