Breaking News

Gay Tuntut Pemerintah Jepang Akui Pernikahan Sejenis


BINTANGNEWS.com – Tiga belas pasangan sesama jenis kelamin di Jepang mengajukan tuntutan pada hari Kamis (14/02) terhadap pemerintah agar mereka diberi hak untuk menikah.
Mereka menuntut ganti rugi simbolis, dengan mengatakan larangan menikah melanggar hak konstitusi mereka.

Jika pengadilan mengabulkannnya, ini berarti hubungan sesama jenis kelamin akan diizinkan di masa depan.

Meskipun Jepang tidak mengizinkan pernikahan gay, survei mengisyaratkan terdapat dukungan kuat pada tuntutan ini.

Masyarakat sangat konservatif
Ke-13 pasangan mengajukan tuntutan pada Hari Valentine, di beberapa kota Jepang.

Ai Nakajima, 40, dari Jepang dan Tina Baumann, 31, dari Jerman adalah salah satunya.

Keduanya telah bersama-sama sejak tahun 2011 ketika bertemu di Berlin. Setelah tinggal selama beberapa tahun di Jerman, mereka pindah ke Jepang. Tetapi hidup sebagai pasangan sesama jenis adalah sangat berbeda di kedua negara.

"Masyarakat Jepang pada umumnya sangat konservatif," kata Nakajima kepada BBC.

Kebanyakan teman mereka tidak berani menyatakan diri sebagai homoseksual dan menyembunyikan partnernya dari keluarga dan teman-teman.

Tetapi, meskipun Jepang adalah negara yang sangat tradisional, jajak pendapat mengisyaratkan kebanyakan generasi muda Jepang mendukung pernikahan sesama jenis.

Sejak tahun 2015, sejumlah kota mengeluarkan sertifikat bagi pasangan sesama jenis, tetapi dokumen ini tidak mengikat dan hanya meminta berbagai pihak untuk memberikan persamaan perlakuan.

"Jadi sementara di antara generasi muda terdapat dukungan kuat bagi pernikahan gay, politikus cenderung lebih tua dan sangat ragu mengubah berbagai hal," kata Nakajima.

Ke-13 pasangan paham bahwa membawa kasus mereka ke pengadilan akan mengundang perhatian masyarakat terkait dengan perjuangan mereka, tentunya - tetapi terdapat juga harapan bahwa usaha mereka akan berhasil.

"Kami siap maju ke Mahkamah Agung," Nakajima menjelaskan. "Jika kami mengambil jalan itu, akan diperlukan lebih lima tahun.

Pernikahan Jerman ditolak
Nakajima dan Baumann menikah di Jerman dan tidak lama kemudian meminta pernikahan mereka diakui di Yokohama, tempat tinggal mereka sekarang.

Seperti mereka perkirakan, akte pernikahan Jerman itu tidak diakui di Jepang.

Bagi keduanya, hal ini menimbulkan masalah nyata - Baumann saat ini bersekolah, tetapi begitu lulus, dia memerlukan visa baru agar dapat tinggal di negara itu.

Bagi pasangan menikah, visa seperti ini dapat dengan mudah dikeluarkan untuk pasangannya - tetapi hal itu tidak berlaku bagi hubungan sesama jenis.

Masalah tidak berakhir di sana, kedua perempuan tersebut menjelaskan.

"Di Jerman, lebih mudah menyatakan diri secara terbuka dan hidup seperti yang Anda inginkan," kata Baumann.

"Tetapi di Jepang, peran gender lebih tradisional dan perempuan diharapkan untuk menikah dan memiliki anak. Dalam banyak kasus, itu yang masih diharapkan, bahwa perempuan akan berhenti bekerja begitu menjadi seorang ibu."

Banyak teman mereka yang tidak berani berbicara secara terbuka ke keluarga mereka karena khawatir akan dikucilkan.

"Sepertinya kita diusir," kata Nakajima. "Dan ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan kita. Kita, sebagai contoh, ingin menyewa rumah sebagai pasangan sesama jenis, kita kemungkinan akan ditolak karena hal ini. Atau kita kemungkinan tidak bisa mendapatkan pinjaman jika ingin membeli properti bersama."

"Sepertinya kami menghadapi masalah dalam setiap keadaan," katanya.

"Kami menerima berbagai kecaman dari masyarakat bahwa kami seharusnya pindah saja ke Jerman dari pada menimbulkan masalah di sini, di Jepang," kata Baumann.

Dan pada akhirnya, mereka memutuskan untuk membela keyakinan mereka tentang hal yang lebih penting.

Valentine: Cinta lama bersemi kembali setelah 65 tahun dan tiga kisah lainnya

Dilansir BBC Indonesia Konstitusi Jepang mengatakan "pernikahan hanya akan berdasarkan persetujuan kedua jenis kelamin" dan pemerintah selalu memandang ini sebagai landasan tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis.

Tetapi pengacara ke-13 pasangan memandang naskah konstitusi mencegah terjadinya pemaksaan pernikahan, dan sama sekali tidak disebutkan larangan pernikahan gay.

Tuntutan pada hari Kamis kemungkinan hanya akan menjadi langkah pertama dari proses panjang, tetapi para pegiat menegaskan mereka siap berjuang untuk jangka panjang agar pasangan sesama jenis dapat menikah di Jepang.

Laporan wartawan BBC, Andreas Illmer.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com