Breaking News

Peran Pers Bukan ”Public Relations” Tapi Membuka Ruang Publik Jadi Cerdas


Oleh: T. Bintang
Pemred BINTANGNEWS.com

BINTANGNEWS.com – Belum lama kita baru memperingati Hari Pers Nasional (HPN), dan tentu momen itu sangat tepat untuk mengevaluasi kinerja insan Pers bagi seluruh Jurnalis diberbagai media, baik media cetak, online, radio, dan berbagai stasiun televisi diseluruh Indonesia. Agar Pers tetap mampu menyampaikan informasi yang faktual dalam menjalankan tugasnya.
Berdasarkan keputusan Presiden nomor 5 tahun 1985, hari pers nasional telah digodok sebagai salah satu butir keputusan kongres ke-28 pada saat itu.

Peran Pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demokrasi, adalah merupakan filar keemat, setelah Eksekutif, Legislatif, Yudikatif dan, Pers didalamnya. Propesi Wartawan tetap harus konsisten berdiri dalam propesinya yang Independen sebagai ”power agent social control”, agar tetap mendapat trust (kepercayaan) publik.

Karena peran pers telah menjadi pasangan abadi selama republik ini sebagai negara demokrasi. Pers tidak mungkin putus oleh karena waktu, lekang karena jaman, pers akan tetap erat karena telah diikat oleh cita-cita bangsa, yakni dalam menegakan negara yang adil dan beradab.

Jika pemerintah dalam Undang-undang berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pers pun dari propesinya yang kritis dituntut harus mampu mengolah alternatif, demi menghasilkan ruang publik yang cerdas bagi bangsa, karena pers adalah tempat diskrunisasi pikiran publik.

Karya Jurnalis harus mampu memberikan suguhan editorial atau berita pendalaman (quality), secara repleks yang terlahir dari kemampuan naluri Wartawan, agar dalam algoritma masyarakat, masih ada pircu (kejujuran) intelektual dari propesinya. Sehingga semiotik rakyat tidak ada kesan menjadi public relations officials (jadi humas pejabat) maka pers harus jauh dari mental Rezimentasi, agar mendapat trust (kepercayaan) publik, jika tidak, maka itu akan berdampak buruk pada kehidupan bangsa.

Mengingat, Wartawan hakekatnya secara empiris setiap hari masih terus kuliah dari propesinya sendiri, baik tentang wawasan kenegaraan, kebangsaan, sosial, politik, budaya dan, agama, tentu pengetahuan wartawan harus lebih diatas rata-rata.

Apalagi jika kita ingat pada sejarah bangsa, dulu republik ini didirikan oleh para Pounding father atau pemikir-pemikir unggulan, seperti Proklamator kita Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, H. Agus Salim dan, Bung  Soetan Sjahrir, Perdana Menteri (PM) pertama Republik Indonesia, yang pada saat itu usianya baru 36 tahun.

Soetan Sjahrir, dalam pidato bahasa Inggrisnya sempat menggetarkan dunia pada saat menyerang Diplomat Belanda di Dewan Keamanan PBB Amerika yang mengingkari Perjanjian Linggarjati. Soetan Sjahrir diplomasinya mampu meyakinkan para pemimpin dunia sehingga Sjahrir mendapat julukan (Bung Kecil) karena Soetan Sjahrir saat itu dianggap masih muda dan postur tubuhya juga masih kecil, tapi yang dikagumi oleh para pemimpin dunia saat itu, karena Soetan Sjahrir sangat jago dalam dipomasinya di forum dunia.

Begitu pula Jurnalis, tidak boleh terjebak dengan kemewahan kosa kata narasumber, karena hal ini pernah terjadi di Amerika Serikat (AS). Sebut saja Professor Alan Sokal, guru besar di New York University, yang artikelnya dalam Social Text terkenal paling diburu pembaca. Tapi suatu ketika Sokal pada tahun 1996, pernah mencoba menjebak sejauh mana Intelektual seorang Jurnalis dalam Jurnal akademiknya di dapur redaksi.

Alan Sokal mencoba menulis dengan omong kosong alias bohong, ternyata artikelnya lolos masih bisa naik di Social Text. Akhirnya Sokal di Amerika, mendapat julukan sebagai Profesor Alan Sokal Hoaks. Maka gara-gara ulah Sokal lah, akhirnya kalimat Hoaks kini jadi populer di Indonesia.

Pers tetap harus bersikap keritis terhadap narasumber, pers jangan sampai Inflasi norasi atau kosa kata, karena tugas Jurnalis harus mampu mendistribusikan keadilan, jika ada kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, maka tugas Jurnalislah yang harus paling terdepan, dan Wartawan tidak harus takut, karena tugas Wartawan dilindungi undang-undang. Walaupun pejabat juga ketika dikeritik baik oleh Wartawan, Ormas, LSM dan, oleh aktives mahasiswa, sering pula suka menagih solusi. Padahal, esensi dari kritik bukan harus memberikan solusi, karena solusi adalah kewajiban pejabat yang digaji oleh uang rakyat.

Untuk menguji kecakapan Wartawan, mari kita hanya mengambil perumpamaan saja, misalnya, polisi pada saat berhasil melakukan penangkapan beberapan pelaku kejahatan, biasanya suka gelar jumpa pers, sambil menghadirkan pelakunya. Tapi saat pelakunya meninggal dunia, dengan alasan karena pelaku mencoba melawan petugas, akhirnya polisi beraasan,” kami terpaksa harus melakukan tindakan terukur dengan peluruh timah panas, tapi anehnya dalam tindakan terukur tersebut, pelakunya hingga meninggal dunia.  

Tentu peristiwa itu harus jadi bahan pertanyaan tajam Jurnalis, mestinya Wartawan harus berani mengejar,” dengan semakin meningkatnya kasus tindak kriminilitas,” apakah pelaku itu lebih disebabkan oleh tekanan ekonomi, apa ada kesenjangan sosial, atau memang tindakan prepentive (pencegahan) polisi yang masih lalai.

Apalagi jika sampai pelakunya meninggal dunia, tentu wartawanwa harus melakukan invastigasi, pertanyaaan Wartawan juga harus terus mengejar, kalau perlu Jurnalis harus mampu menciptakan suasana percekcokan pikiran, namun tetap harus dalam kode etik Jurnalistiknya, karena ada yang disebut konten analisis, penggunaan kata pilihan yang santun (Bagus) untuk test the argument (menguji dalil) biar ada dialektika (Debat positif) guna menumbuhkan kemewahan pikiran yang cerdas dalam percakapan, demi memberikan edukasi bagi generasi bangsa.
.
Pertanyaan Wartawan harus bisa mengerahkan argumentasi cerdas terhadap narasumber. Dan harus berani pastikan jika hal itu dilakukan, Wartawan jangan takut akan kehilangan narasumber, karena pejabat juga tidak akan mau kehilangan wartawan yang punya perinsip dalam propesinya, ketimbang mereka harus kehilangan wartawan bermental picisan, maka Wartawan tidak bisa dibungkam oleh siapapun, jika propesi Wartawan tidak mau kehilangan legitimasinya.***   

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com