Breaking News

Ada Tiga Kelompok Calon Pemilih Diperebutkan Jokowi dan Prabowo?


BINTANGEWS.com – Ada tiga kelompok demografi penting yang diperebutkan dalam Pemilihan Presiden 17 April mendatang: perempuan, milenial, dan kelompok Muslim. Lantas, pasangan capres mana yang akan dipilih kelompok ini?
Kelompok pemilih perempuan penting karena bukan hanya jumlahnya lebih besar dibanding pemilih pria, melainkan juga karena partisipasi perempuan dalam pemilu lebih besar dibanding laki-laki, seperti yang diungkapkan peneliti CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Arya Fernandes.

"Dalam pilkada serentak kemarin, tingkat partisipasi perempuan 75%, sementara partisipasi laki-laki hanya 71%," ungkap Arya.

Survei CSIS yang dilakukan pada Maret 2019 menemukan bahwa mayoritas perempuan akan memilih pasangan capres Joko Widodo - Ma'ruf Amin, begitupun pemilih laki-laki pada umumnya akan memilih pasangan calon nomor satu itu.

Hal itu menggambarkan hasil polling CSIS yang menemukan bahwa elektabilitas paslon Jokowi - Ma'ruf sebesar 51,4%. Adapun elektabilitas paslon Prabowo Subianto - Sandiaga Uno sebesar 33,3%.

Kelompok penting lainnya adalah kelompok milenial, yang berusia antara 17 dan 40 tahun. Kelompok ini membentuk lebih dari 40% jumlah total pemilih.

Hasil survei SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) menemukan bahwa mayoritas kelompok milenial memilih paslon Jokowi - Ma'ruf.

Yang menarik, popularitas Prabowo di kalangan anak muda semakin terdongkrak setelah bersekutu dengan Sandiaga Uno.

"Ada kenaikan suara Prabowo di segmen milenial setelah dia berpasangan dengan Sandiaga Uno," ungkap Arya Fernandes.

Arya juga menambahkan bahwa meyakinkan kelompok ini sangat penting, terutama dalam debat-debat. Sebab kelompok ini "gampang berubah, mengikuti trendsetter, dan menentukan pilihan di menit-menit terakhir."

Kelompok ketiga, dan terbesar, dalam pemilihan nantinya adalah kelompok Islam. Hal ini jugalah yang menyebabkan kedua kubu kerap memainkan politik identitas dalam menggaet pemilih.

Menurut Arya, secara agregat nasional, pemilih Islam masih cenderung memilih Jokowi, meski "ada beberapa varian keislaman yang berbeda sikap".

Meski masing-masing kelompok memiliki kecenderungan pilihan mereka, namun secara umum pilihan pemilih ditentukan oleh karakter calon pemimpin.

Pertimbangan pemilih yang sederhana atau merakyat dan berjiwa sosial menjadi penentu utama karakter, disusul dengan karakter tegas dan berwibawa.

Itulah sebabnya mengapa Prabowo unggul di Sumatera, karena mayoritas penduduk di Sumatera menginginkan pemimpin yang tegas. Sementara penduduk Jawa menginginkan pemimpin yang tegas, seperti dijelaskan oleh Arya.

Meski begitu pertarungan utama dalam Pilpres ini adalah mengenai isu ekonomi, bukan sekedar karakter pemimpin.

"Secara statistik kita menemukan bahwa orang-orang yang puas dengan kinerja ekonomi pemerintahan, cenderung akan memilih petahana," jelas Arya yang dilansir BBC Indonesia, "Sementara orang-orang yang tidak puas cenderung akan memilih penantang."(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com