Bila Netanyahu Menang Lagi Dipemilu Israel, Apa Dampak Bagi Palestina? - Sumber Informasi Dunia

Bila Netanyahu Menang Lagi Dipemilu Israel, Apa Dampak Bagi Palestina?

Share This

BINTANGNEWS.com – Israel menjalankan pemilihan umum Selasa (09/04) dan perdana menteri pertahana Benjamin Netanyahu diperkirakan pengamat akan kembali menduduki kembali posisi tersebut.
Persoalan Palestina menjadi bagian yang paling dijual di dalam kampanye para calon. Seluruh calon yang bersaing pada umumnya mengabaikan "solusi dua negara" yang menjadi usulan dunia internasional.

Netanyahu dan Partai Likud secara terbuka menolak usulan "dua negara" ini.

Mereka malahan berjanji untuk melakukan aneksasi terhadap wilayah Tepi Barat yang mereka duduki apabila ia terpilih.

Pemukiman Israel di Tepi Barat selama ini dianggap ilegal oleh dunia internasional dan terus menjadi sumber konflik yang menajam antara Israel dan Palestina.

Menanggapi rencana aneksasi ini, juru bicara pemimpin Palestina Mahmoud Abbas menyatakan, sebagaimana dikutip oleh Reuters, "Segala tindakan dan pengumuman itu tidak akan mengubah fakta. Pemukiman (Israel itu) ilegal dan akan dipindahkan."

Koalisi Biru Putih - partai baru yang dibentuk Benny Gantz, bekas panglima militer - juga mendukung dan berniat memelihara pemukiman tersebut.

Dalam soal solusi dua negara, Koalisi Biru Putih mengkampanyekan "pemisahan" antara Israel dan Palestina tetapi tidak menyebut secara khusus adanya negara untuk Palestina.

Sementara itu Partai Buruh yang pernah mempelopori perjanjian Oslo di tahun 1990-an, justru kehilangan suara mereka.

Bila terpilih lagi, Netanyahu akan menjabat kelima kalinya.

Janji akan keamanan
Bagaimana ia bisa menjabat hingga sekian lama, dan kenapa pemilu kali ini dianggap persaingan terberat untuknya?

Israel menganut sistem parlementer di mana partai dominan akan menduduki posisi perdana menteri, tetapi hingga kini tidak pernah ada partai yang meraih kursi mayoritas di parlemen mereka, Knesset yang memiliki jumlah total 120 kursi.

Partai Benjamin Netanyahu, Partai Likud, berkuasa dengan membentuk koalisi dengan partai lainnya.

Kini ia menghadapi tantangan dari Benny Gantz, bekas panglima militer Israel yang membentuk partai baru, Koalisi Biru Putih.

Netanyahu selama ini terpilih berkat dua pendekatannya dalam politik: janji akan keamanan yang ketat dan kemajuan ekonomi.

Termasuk di dalam janji keamanan itu adalah persoalan Palestina.

Pada pemilu kali ini, ia memperlihatkan kedekatan dengan partai sayap kanan ultra konservatif dan partai berdasar agama yang diperkirakan akan membuat kebijakannya semakin keras dalam isu keamanan dan Palestina.

Persaingan
Koalisi Biru Putih adalah pesaing terberat Netanyahu karena hasil polling terakhir memperlihatkan persaingan ketat dengan Partai Likud. Selain Gantz, koalisi ini juga dipimpin oleh bekas menteri keuangan Yair Lapid.

Koalisi ini cukup menonjol karena profil Gantz sebagai politisi baru yang menjanjikan pemerintahan yang bersih dari korupsi.

Latar belakang Gantz sebagai seorang jenderal juga membuatnya punya daya jual di kalangan pemilih dalam hal janjinya memelihara keamanan Israel.

Pesaing lainnya adalah Partai Kanan Baru yang yang didirikan oleh Naftali Bennett dan Ayelet Shaked. Keduanya mengambil posisi yang lebih kanan lagi daripada Partai Likud dan menjanjikan sikap keras terhadap Palestina.

Termasuk di antara kampanye mereka adalah serangan udara terhadap Hamas dan demiliterisasi secara permanen terhadap Gaza secara keseluruhan.

Kasus korupsi
Namun ia menghadapi tantangan keras terutama karena berbagai tuduhan yang menimpanya.

Netanyahu dituduh menerima suap berupa sampanye dan cerutu mahal untuk membantu temannya, seorang produser film Hollywood, untuk mendapat kelonggaran pajak dan urusan visa.

Tuduhan ini merupakan tindakan kriminal di Israel dan bisa membawa Netanyahu ke penjara.

Selain itu ia juga dituduh menyalahgunakan posisi agar mendapat liputan yang lebih baik di media. Namun penyelidikan berkaitan dengan tuduhan-tuduhan ini ditunda hingga pemilu selesai.

Pihak oposisi memanfaatkan tuduhan-tuduhan ini dan meminta agar Netanyahu dan partainya tidak dipilih lagi karena tersangkut dengan tuduhan kriminal.

Menurut sumber BBC Indonesia Netanyahu membantahnya dan menyatakan bahwa itu hanya berita palsu dan dibuat dengan motivasi politik untuk menjatuhkannya.

Hingga kini pendukung Netanyahu dan Partai Likud tampaknya tidak terlalu peduli pada kasus-kasus itu dan terus memperlihatkan dukungan terhadap Netanyahu.

Periode kelima
Jika Benjamin Netanyahu berhasil membentuk pemerintahan koalisi lagi, maka ini adalah kali kelima baginya untuk menjabat posisi Perdana Menteri Israel.

Netanyahu pertama kali terpilih pada tahun 1996, dan menjadi Perdana Menteri Israel termuda. Latar belakangnya sebagai bekas tentara dan sikap politiknya yang keras membuatnya berhasil menjadi perdana menteri.

Jabatan ini berakhir pada tahun 1999 ketika ia kalah dari pemimpin Partai Buruh, Ehud Barak.

Pada tahun 2005, ia kembali menjabat ketua Partai Likud dan pada tahun 2009 kembali menjadi perdana menteri. Pada pemilu tahun 2013 dan 2015, Netanyahu kembali berhasil memenangkan pemilu. Semuanya didasarkan pada kampanye akan kebijakannya yang keras terhadap Palestina, di samping janji akan kemajuan ekonomi Israel.

Maka jika partainya berhasil memimpin koalisi lagi pada pemilu kali ini, maka ini akan menjadi periode kelima bagi Netanyahu untuk menjadi perdana menteri Israel.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com

Post Bottom Ad

Pages