Breaking News

Capres Berebut Tokoh Ulama Jabar, Karena Pemilih Masih Berlandaskan 'Agama'


BINTANGNEWS.com – Jawa Barat provinsi dengan 33 juta pemilih atau 20% suara secara nasional menjadi arena pertarungan sengit untuk merebut kemenangan pada Pemilihan Presiden 2019.
Calon presiden petahana Joko Widodo mencoba mendulang suara dengan sederet proyek infrastruktur di Jabar, seperti Citarum Harum, Bandara Kertajati, dan Tol Bocimi. Adapun calon presiden dari kubu oposisi, Prabowo Subianto, berupaya merebut simpati masyarakat melalui dukungan para ulama.

Di Kampung Ciputat, Kabupaten Bandung, perahu-perahu kayu terdampar di muka rumah. Sebagian lagi, menepi persis di mulut gang.

Bagi warga setempat, perahu kayu ini adalah transportasi darurat jika air sudah mengepung kampung mereka.

Seperti halnya saat awal April lalu, hujan deras selama tiga hari berturut-turut membuat air Sungai Citarum luber dan menutup atap rumah.

Asep Setiadi, seorang warga setempat, bercerita banjir yang terjadi belakangan ini sudah tak bisa lagi diprediksi kapan dan berapa lama.

"Hampir setiap musim hujan, pasti banjir. Walau di (wilayah) kami tidak hujan, di wilayah lain hujan, kami akan kebanjiran. Walaupun di sini tidak hujan," ujar Asep kepada wartawan Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Jutaan warga adat terancam gagal mencoblos, kisah Dayak Meratus hadapi pemilu tanpa mengenal aksara

Saat wartawan Quin Pasaribu ke sana, beberapa rumah nampak kosong, kotor, dan rusak.

Asep bercerita, satu persatu penghuni kawasan pergi sejak 2007 karena tak sanggup menghadapi banjir.

Salah satu warga yang pergi adalah Ida, perempuan berusia 55 tahun. Dia tidak tahan lagi tinggal di Kampung Ciputat. Padahal dia sudah menetap di area itu sejak 1981.

Rumahnya di dekat tanggul Sungai Citarum direndam air bercampur lumpur setinggi kira-kira 20 centimeter selama tiga bulan.

"Sudah tiga bulan, mau gimana? Atapnya habis kena banjir. Tuh dalam nih. Saat banjir besar 2005, minum air hujan, nggak ada air. Bantuan nggak sampai. Nih lihat gimana mau ditinggalin, uang juga nggak ada."

Ida kini mengungsi ke rumah anaknya, meski tak bebas juga dari banjir. Tapi setidaknya, tak digenangi air.

Kampung Ciputat bersisian dengan Sungai Citarum. Jarak dari bibir sungai ke rumah warga, tak lebih dari 10 langkah. Permukiman ini juga lebih rendah antara satu sampai dua meter dari tanggul sungai.

Sepanjang ingatan Asep, bencana banjir besar pertama terjadi 1986. Ketika itu Bandung bagian selatan, seluruhnya terendam banjir setinggi dua meter.

Namun belasan tahun kemudian, atau tepatnya pada 2005, luapan air Sungai Citarum kembali datang dan menjadi rutin setiap tahun.

"Tahun 2005 banjir, mungkin akibat sedimentasi. Alih fungsi lahan di wilayah hulu. Sehingga jadi terjadi sedimentasi. Itu sekitar tiga meter. Cuma ironisnya, yang tadinya 1986 Baleendah seluruhnya terendam. Nah 2005 cuma Andir, Dayeuhkolot cuma sebagian," sambung Asep.

Gara-gara banjir pula, kerugian sosial dan materil sudah tak terhitung lagi.

Yanti Rusmianti, mengatakan anak bungsunya sampai tak naik kelas Taman Kanak-kanak (TK) karena sering bolos sekolah.

"Gimana anak saya sampai nggak naik kelas, gara-gara absen 11 hari. Kalau banjir besar, empat hari baru surut."

Sementara pilihan untuk pindah, mustahil dilakukan.

"Pindah gimana? Kalau pindah harus rumah pindah, sekolah pindah. Kan nggak sesederhana itu. Orangtua juga, dari dulu di sini. Kalau disuruh mengungsi nggak mau, nggak betah. Mau pindah ninggalin orangtua gimana?"

Citarum Harum, pemikat untuk Jokowi-Ma'ruf Amin
Citarum sesungguhnya menyimpan banyak sampah. Akibatnya, Citarum dinobatkan Bank Dunia sebagai sungai terkotor di dunia. Mulai dari tempat pembuangan limbah domestik dan industri, sampai limbah kotoran sapi dan sampah mengalir ke Citarum.

Pada 2017 lalu, pembuat film, Sam dan Gary Bencheghib membuat video membersihkan sampah di Citarum dengan menaiki kayak dari botol plastik.

Video itu lantas menjadi perhatian internasional dan disambut Presiden Joko Widodo dengan meresmikan program Citarum Harum.

Menjelang Pilpres 2019, proyek nasional yang sudah menghabiskan dana Rp600 miliar itu dijadikan wahana untuk memikat hati pemilih yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum—yang jumlahnya diperkirakan mencapai 4,8 juta.

Sekretaris Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Amin di Jawa Barat, Abdy Yuhana, menyebut pemilih di Jawa Barat merupakan yang terbesar se-Indonesia yaitu 33,2 juta orang dan karena itu patut direbut.

Jika menoleh pada lima tahun silam, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang dengan perolehan 59,78%. Sementara Joko Widodo-Jusuf Kalla hanya mendapat 40,22%.

Pada pertarungan kali ini, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin optimistis bisa membalikkan keadaan. Target kemenangan 60% diharapkan bisa tercapai.

Maka tak heran, ruang publik sepanjang jalan Kota dan Kabupaten Bandung dipenuhi wajah Jokowi-Ma'ruf Amin yang sedang tersenyum di sejumlah billboard dan spanduk.

Sedangkan alat peraga kampanye Prabowo-Sandiaga, tampak kurang semarak. Hal itu diakui Ketua Badan Pemenangan Daerah Pabowo-Sandi Jawa Barat, Abdul Haris Bobihoe.

"Ya kami kaget juga. Hampir setiap pohon ada gambar 01. Karena ya logistik kami memang tidak banyak," ujarnya.

Maraknya spanduk Jokowi-Ma'ruf Amin dimanfaatkan kubu paslon nomor urut 01 itu dengan memuat pesan-pesan spesifik.

Pada berbagai spanduk, Ma'ruf Amin disebut sebagai; Kyai, keturunan ulama, dan Sunda pituin (keturunan langsung orang Sunda).

"Kami ingin meyakinkan pada masyarakat Jawa Barat bahwa pertama, Ma'ruf itu silsilahnya masih keturunan Sumedang. Itu fakta. Kedua, dia ulama Ketua MUI. Tiga, tentunya kalau kita lihat perjalanan dari Ma'ruf banyak keliling Jawa Barat responnya luar biasa," tukas Abdy Yuhana.

Namun begitu, tim Prabowo-Sandi mengaku takkan gentar barang sejengkal.

Menurut Abdul Haris Bobihoe dari kubu capres nomor urut 02, kehadiran Ma'ruf Amin—yang dinilai bisa mewakili kalangan Muslim—tak mempan mencuri suara masyarakat Jawa Barat yang lekat dengan organisasi Persatuan Islam (Persis).

"Kalau kita melihat bahwa memang di sana ada Ma'ruf Amin yang orang NU tapi kalau orang Jawa Barat tidak identik dengan NU. NU itu lebih banyak di Jatim.

"Di Jabar memang mayoritas muslim, tapi memang mereka muslim yang cukup kritis seperti Persis dan peserta 212. Jadi mereka melihat ada perintah Imam Besar Rizieq Shihab yang memerintahkan umat Islam memilih Prabowo. Itu juga yang memengaruhi masyarakat Jawa Barat," jelas politikus Partai Gerindra ini.

Didukung kepala daerah
Tapi perubahan komposisi politik di Jawa Barat yang tak lagi dikuasai Partai Keadilan Sejahtara (PKS), kata Sekretaris TKD Jawa Barat, Abdy Yuhana, menguntungkan capres dan cawapres nomor urut 01.

Bergesernya Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin diklaim akan menambah suara.

"Ada 23 kepala daerah yang diusung oleh partai koalisi. Misalnya di Kuningan, PDI Perjuangan. Majalengka, PDI Perjuangan. Sumedang, PPP. Kemudian Bekasi ,Golkar. Kemudian Kabupaten Bogor, PPP.

"Sehingga dengan dukungan partai politik itu kami meyakini itu akan mengubah konstelasi politik di Jawa Barat yang muaranya adalah itu akan memperkuat pemenangan Pak Jokowi."

Hal lain, Abdy meyakini betul sederet pembangunan infrastruktur dan program bantuan langsung, bakal mendulang suara untuk Jokowi. Sebut saja, Waduk Jatigede, Citarum, Bandara Kertajati, dan Tol Bocimi.

"Terutama KIP, KIS, PKH, dana desa. Jadi itu akan juga masyarakat merasa bahwa dampak dari program-program itu mampu mensejahterakan masyarakat Jawa Barat."

Hanya saja bagi Ketua Badan Pemenangan Daerah Pabowo-Sandi Jawa Barat, Abdul Haris Bobihoe, proyek infrastruktur nasional di Jawa Barat tak bisa diklaim milik Jokowi.

"Kalau kita lihat hasil survei kita dan kita datangi warga, ya itu proyek pemerintah sudah sejak lama, tidak hanya sejak Pak Jokowi. Memang selesainya di pemerintahan Jokowi, tapi bukan dia pelopor utama.

"Dan masyarakat Jabar tahu, infrastruktur tersendat sejak lama. Tapi sudah dilakukan. Jadi tidak berpengaruh kuat. Dilihatnya bahwa itu kewajiban pemerintah. Meskipun ada tol dan segala macam."

Dari pemetaan timnya, paling tidak Prabowo-Sandi harus menang 70% di Jawa Barat untuk menambal kekalahan di provinsi lain. Angka itu didapat dari daerah-daerah seperti Sukabumi, Bogor, Bekasi, Depok, dan Cianjur.

Sementara wilayah pendukung Jokowi yang dicoba direbutnya, yakni Indramayu, Majalengka, hingga Pangandaran.

"Itu daerah merah. Itu makanya Prabowo ke Ciamis, bisa merekrut Pangandaran, Cirebon dan sekitarnya," kata Abdul Haris yang dilansir BBC Indonesia.

Seperti apa suara warga?
Di Kampung Ciputat, langka ditemui spanduk yang memampang wajah capres-cawapres baik nomor urut 01 maupun 02. Paling-paling hanya satu bendera PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut seorang warga, Asep Setiadi, hingga dua pekan jelang Pilpres, belum ada satupun petinggi partai pengusung capres-cawapres 01 dan 02 yang menyambangi Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah.

"Selama ini kan baru diwalikili oleh salah satu warga kami yang aktif. Untuk Ciputat, ada relawan 01, kalau 02 belum ada."

Jika merujuk pada Pilpres 2014, suara untuk Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Kabupaten Bandung menang telak.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat mencatat Prabowo-Hatta Rajasa memperoleh 1,1 juta suara dan Jokowi-JK hanya 655 ribu suara.

Ida, salah satu pemilih yang menyoblos mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu pada Pilpres 2014.

"Biar ada perubahan, tapi kan Tuhan berkehendak lain."

Pada 17 April nanti, perempuan 55 tahun ini telah memantapkan hati untuk kembali memilih Prabowo. Sedemikian yakinnya, ia siap disumpah takkan berpindah meski diiming-imingi janji.

"Saya bersumpah (dukung Prabowo). Kalau bohong, suara saya nggak ada," kata Ida.

Suara yang sama, kata Mak Ida—begitu ia disapa—juga diambil seluruh keluarganya. Dia menilai kebijakan Jokowi yang pro pada investor Cina mengancam pekerja dalam negeri.

"Kalau kata orang Sunda mah, takut nggak ada orang pribuminya."

Meski Ida menggandrungi Ridwan Kamil sebagai gubernur—yang merupakan Dewan Pengarah TKD Jabar—toh pilihan capresnya tetap tak tergoyahkan.

"Saat pilgub, pilih Ridwan Kamil. Tapi nggak pengaruh ke pilihan presiden. Dulu pilihan presidennya juga bapak Prabowo. Demi Tuhan."

Lagipula, katanya, proyek Citarum Harum belum dirasakan oleh dirinya dan warga lain meski sungai telah bersih dari sampah.

Berbeda dengan Ida, Yanti Rusmianti sempat goyah dan hendak berbelok ke pasangan nomor urut 02, namun urung.

"Pikir saya tadinya nggak ada realisasi, tapi lihat di berita berarti harus diterusin lagi. Apalagi pak Jokowi sudah tinjau langsung kan."

Bagi ibu tiga anak ini, meski program Citarum Harum belum bisa menghentikan banjir. Tapi setidaknya mantan Gubernur DKI Jakarta itu sudah memulai langkah baru untuk Jawa Barat.

"Ya kalau saya sih pasti pilih yang nerusin program. Kalau misalkan program dari nol lagi, banyak evaluasi lagi. Kalau sekarang sudah ada program yang dari Curug, hulu, sudah ada kan. Tinggal diteruskan. Jadi saya pilih yang itu," katanya yakin.

Di Kampung Ciputat, hampir mustahil yang berubah haluan. Kalaupun ada, itu karena arahan partai. Warga Kampung Cikitu yang juga anggota Partai Golkar, Hermansyah, mengatakan sebagai kader ia harus taat pada perintah pimpinan.

"Ah kita mah nggak lihat sosok. Lihatnya pimpinan di atas partai. Kan kita harus taat pada partai. Emanggimana partai, dulu kan Prabowo-Hatta. Sekarang dukung Jokowi-Amin, ya kita ikut saja partai."

Meski dari segi pemerintahan Jokowi, menurutnya, patut diacungi jempol karena membangun Jawa Barat lebih pesat.

"Kalau dari hati, dari saya pribadi juga ya ikut program dari pusat ke Jabar. Nanti kan ada kereta api cepat untuk pembangunan Jabar. Sekarang kan Jokowi banyak pembangunan, apalagi untuk Jabar."

Di Jawa Barat, setidaknya ada empat proyek nasional; Waduk Jatigede, Citarum Harum, Bandara Internasional Kertajati, dan Tol Bocimi.

Masyarakat Jabar masih gunakan 'agama' dalam memilih
Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Bandung, Idil Akbar, menyebut masyarakat Jawa Barat masih melandaskan pilihannya di Pilpres 2019 pada faktor agama. Meski ada pergeseran dalam hal rasionalitas, tapi itu tidak signifikan.

"Ketika ada penyampaian proklamatik yang dilakukan Jokowi ke masyarakat Jabar, ada kenaikan hasil survei dimana elektabilitas Jokowi mencapai 47%. Dengan kata lain bahwa perilaku memilih masyarakat Jabar nggak kental ke persoalan identitas, meski tidak dominan," ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Dalam pengamatannya, kehadiran Ma'ruf Amin yang kemudian dipoles sebagai keturunan Sunda dan mewakili kelompok muslim Jabar, nyatanya belum mampu merebut simpati masyarakat.

"Karena Ma'ruf Amin lebih dikenal sebagai seorang Banten. Meski dalam konteks Kesundaan iya, cuma dalam kedaerahan dikenal orang Banten."

Temuannya di lapangan juga mendapati masyarakat Jabar masih termakan isu miring tentang gempuran tenaga kerja China ke Indonesia dan membengkaknya utang pemerintah.

"Isu TKI China itu masih memengaruhi luar biasa lho. Jadi kecenderungan percaya, cukup tinggi."

"Nah dalam konteks ini, kami membaca masyarakat Jabar problemnya terkait dengan soal identitas. Menyatakan bahwa faktor penentu memilih itu melihat dalam isu-isu begitu."

Kendati demikian, bukan berarti Prabowo-Sandi akan menang dengan mudah.

Pengamat politik, Muradi, menyebut dari sisi dukungan partai politik, hanya Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera yang loyal. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) dan demokrat, terlihat setengah hati.

"PAN sendiri kan masih fifty-fifty (50-50), Demokrat apalagi hampir 60 persen ke Jokowi di Jabar ya," ujar Muradi.

Yang harus dicermati masing-masing capres dan cawapres, kata Idil Akbar, adalah para undecided voters atau kelompok pemilih yang masih menyembunyikan pilihannya. Jika merujuk pada survei Charta Politika, jumlah undecided voters sebanyak 11%.

"Mereka ini cenderung menjawab nggak tahu atau belum memutuskan. Bisa juga diarahkan menjawab yang tidak sebenarnya. Maka kami melihat undecided voters yang akan menentukan."

Kecenderungan identitas para undecided voters ini, baik dari pengamatan Muradi dan Idil Akbar, bukan pemilih ideologis. Sehingga masih bisa 'digoyang'. Itu mengapa, dalam beberapa hari jelang pencoblosan, para kader partai harus gencar mengkampanyekan visi-misi.

"Dalam beberapa hari ke depan, akan sangat menentukan. Karena pergerakan timses di bawah harus intensif mendatangi masyarakat. Memperkenalkan atau mengampanyekan program-program mereka."

Hal itu dibenarkan, Asep Setiadi -warga Kampung Ciputat, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah. Kata dia, kehadiran relawan tak cukup meyakinkan agar memilih Jokowi atau Prabowo.

"Katakanlah dari pihak 01 andalkan caleg, tapi kan nggak bisa begitu juga. Kan harus ada tim khusus yang datang ke sini, yang bisa mengakomodir aspirasi masyarakat sehingga jadi bahan program 01 atau 02. Nah sampai sekarang belum ada," tukasnya."(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com