Breaking News

Mengapa Pasca Pilpres 2019 Wacana Referendum di Aceh 'Bergulir'

BINTANGNEWS.com - Wacana menggelar referendum di Aceh dengan pilihan, tetap menjadi bagian wilayah Indonesia atau lepas dan menjadi negara baru, sebagaimana dalam kasus Timor Leste, diutarakan tidak lama setelah hasil penghitungan suara KPU menunjukkan pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kalah.
Di provinsi ini, Prabowo-Sandi menang telak dengan 81% suara.
Sang penggagas adalah Muzakir Manaf, mantan panglima Gerekan Aceh Merdeka (GAM) yang saat ini menjabat sebagai ketua umum Komite Peralihan Aceh (KPA) dan sekaligus ketua umum Partai Aceh (PA). Muzakir Manaf dengan sebutan akrab Mualem juga pernah menjabat sebagai wakil gubernur Aceh.

Salah satu alasannya yang dilansir BBC Indonesia, "Kita tahu bahwa Indonesia, beberapa saat lagi akan dijajah oleh asing. Itu yang kita khawatirkan. Karena itu, Aceh lebih baik mengikuti Timor Timur. Kenapa Aceh tidak." Demikian penjelasan Muzakir sebagaimana dikutip oleh media di Indonesia.
Menurut Marzuki AR, mantan kombatan GAM yang dekat dengan Muzakir Manaf, wacana referendum itu dapat dimaknai sebagai bentuk ketidakpuasan atas dua hal utama.
"Aceh mempunyai konsensus dengan Republik Indonesia menyangkut MoU Helsinki. Sampai hari ini tidak semua poin-poin yang kita sepakati terealisasi. Itu yang pertama, kata Marzuki AR dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.
Mengapa referendum?
Ia merujuk pada nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, tahun 2005 sebagai landasan perdamaian.
Yang kedua, lanjutnya, tak dipungkiri wacana referendum muncul karena calon presiden yang diusung Partai Aceh kalah karena hal yang ia sebut "kecurangan". Dalam pemilu 2014, banyak suara pemilih di Aceh diberikan untuk Prabowo. Demikian juga dengan pemilu 2019.
"Hampir 90% rakyat Aceh memilih Prabowo-Sandi. Ini harapannya bahwa ada secercah harapan untuk perubahan di Aceh."

"Ketika proses demokrasi yang ditelanjangi hari ini dengan penuh kecurangan, transparansi bubar, kemudian tidak ada lagi rasa keadilan. Ini membawa efek luar biasa bagi Aceh," jelas Marzuki AR yang menjadi sekretaris Badan Pemenangan Provinsi Aceh Prabowo-Sandi.

Persoalannya mengapa agenda referendum digulirkan sekarang, 14 tahun setelah kesepakatan damai diteken dan sudah ada pula Partai Aceh yang dirintis mantan kombatan GAM?
"Kalau kita menempuh jalan kekerasan, nanti dianggap kita membatalkan MoU. Nah kalau referendum hak semua warga negara secara demokrasi untuk mengeluarkan pendapat," ungkap Marzuki AR.
Ia menepis keras anggapan bahwa Muzakir Manaf menggulirkan isu referendum karena partai yang dirintis para kombatan GAM tersebut tidak banyak mendapat kursi legislatif.

Perpecahan di Partai Aceh sendiri

Namun di jajaran pengurus Partai Aceh dan kalangan eks kombatan GAM terdapat perbedaan pendapat sehubungan dengan wacana referendum yang disuarakan oleh mantan panglimanya, Muzakir Manaf.
Sekjen Partai Aceh Kamaruddin Abubakar, misalnya, menyatakan wacana referendum tidak perlu diteruskan meskipun sepakat bahwa poin-poin kesepakatan mengakhiri konflik yang tercantum dalam MoU perlu diselesaikan.
Jelas pandangannya berbeda dengan Marzuki AR, sebab ia duduk sebagai ketua Sekretariat Bersama pasangan Jokowi-Ma'ruf Provinsi Aceh.
"Alhamdulillah, dari perdamaian kita tanggal 15 Agustus 2005 sampai hari ini, sudah masuk 14 tahun, kita syukuri nikmat perdamaian Aceh dengan RI.
"Beberapa poin yang belum kita selesaikan, termasuk lambang bendera, kekuasaan Aceh 30/70 itulah yang perlu kita bicarakan dengan pemerintah pusat," kata Kamaruddin Abubakar.
Salah satu poin kesepakatan perdamaian Helsinki adalah Aceh berhak memiliki bendera, tetapi lambang bendera yang diajukan selama ini tidak disetujui oleh pemerintah pusat karena dianggap mirip dengan bendera GAM, eks kelompok separatis yang sudah berdamai melalui MoU Helsinki.