Breaking News

Adakah Imlek 2019: 'Semangat Sensor' Dalam Tahun Babi?


BINTANGNEWS.com – Komunitas keturunan Cina di dunia tengah bersiap merayakan Tahun Baru Imlek, yang kali ini merupakan tahun Babi.
Perayaan ini biasanya identik berbagai dekorasi, boneka, hadiah, dan iklan yang menampilkan binatang tahun tersebut.

Tapi babi, binatang paling akhir di kalender zodiak Cina dipersepsikan beragam bagi komunitas Muslim.

Lantas apakah ini menyebabkan masalah bagi komunitas yang merayakannya di negara dengan penduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara?

Seperti kebanyakan keluarga Cina-Malaysia, tahun baru Imlek dipersiapkan secara serius oleh keluarga Chow yang tinggal di Batu Pahat, Malaysia.

Tahun ini merupakan hal yang spesial karena Chow Yoon Kee, istrinya, Stella dan anak perempuannya semua lahir di tahun Babi.

"Kami memasang dekorasi babi keberuntungan di rumah dan mengundang kerabat, teman, kolega dan tetangga untuk berkunjung, apapun ras dan agama mereka - perayaan adalah untuk semua," kata Chow, seorang manajer di sebuah pabrik biskuit lokal.

Dia tidak khawatir tentang perayaan yang mungkin menyinggung sejumlah orang di lingkungannya karena dia percaya tidak ada hal yang bisa menjadi kontroversi.

"Ada banyak debat tahun lalu," dia mengingat, ketika tahun Anjing datang.

Banyak toko tidak mau menampilkan gambar-gambar anjing karena takut akan menyinggung komunitas Muslim.

Malaysia adalah tempat yang multikultur tetapi agama resminya adalah Islam. Ada sejumlah laporan intoleransi pada aktivitas yang dianggap menyinggung kaum Muslim.

Tapi Chow mengatakan otoritas lokal mengabaikan perasaan komunitas keturunan Cina yang betul-betul merayakan tahun baru.

"Malaysia terdiri dari berbagai suku, tidak hanya Muslim Melayu. Kami punya komunitas Cina dan India, juga agama lain seperti Kristen, Hindu, Tao dan Buddha jadi kita harus saling menghormati kepercayaan dan perayaan masing-masing."

Dia mengatakan "semangat sensor" tahun lalu sepertinya tidak terjadi di Tahun Babi ini.

Tiap binatang dalam zodiak Cina dipercaya punya karakter unik tersendiri. Orang yang lahir di tahun babi adalah orang yang pandai, baik hati, dan setia.

Tapi apa dampaknya jika binatang di tahun itu tidak disambut baik? "Tidak ada alasan untuk khawatir," kata konsultan Feng Shui di Kuala Lumpur Joey Yap.

Dia mengatakan pada BBC bahwa tahun ini perayaan tidak menjadi sensitif seperti yang terjadi tahun lalu.

"Babi tidak apa-apa," katanya, menambahkan memajang dekorasi babi atau tidak, tidak akan berpengaruh pada keberuntungan Anda.

"Warna, dekorasi, mereka tidak penting. Realitasnya, keberuntungan tercipta dari tindakan, jadi rangkullah nilai positif."

Tapi apakah kasusnya sama di Indonesia, dengan penduduk Muslim terbesar di dunia?

Merry Olivia, 28, mengatakan teman-temannya yang Muslim tidak masalah dengan gambar-gambar babi.

"Saya besar dengan teman-teman Muslim jadi saya tahu itu tidak membuat mereka marah," katanya sambil menambahkan bahwa babi tampak lebih meriah dibandingkan tahun tahun lain.

"Kalau dibandingkan Tahun Ular misalnya, tidak banyak yang suka. Babi itu lucu jadi banyak yang akan suka."

Valeria Rita yang memiliki usaha Dapur Mama Loe menyediakan kue khusus menyambut tahun Babi, yaitu nastar bentuk jeruk dan babi.

Dia mengatakan responsnya bagus sekali. "Tiap tahunnya, untuk Imlek, kami buat nastar karakter motif jeruk yang identik dengan perayaan Imlek. Khusus untuk tahun ini, kami tambahkan karakter babi sesuai dengan shio tahunnya."

Banyak konsumennya adalah Muslim. "Mereka beli kue ini untuk kolega dan teman yang merayakan. Beberapa juga beli untuk mereka sendiri karena suka banget sama karakter babi, bahkan koleksi pernak-pernik babi.

Teman baik saya yang Muslim suka becanda, "wahh ini babi pertama yang 100% halal."

Sentimen negatif di Bogor dan Pontianak

Walau begitu, ada sejumlah orang yang merasa khawatir.

Rangga Sastrajaya mengaku enggan menampilkan dekorasi-dekorasi Imlek di depan publik karena takut membuat teman-temannya yang lain tidak nyaman.

"Kalau pakai kaos gambar babi di komunitas tidak masalah tapi kalau di luar mending tidak, kemudian kalau pasang dekorasi sebaiknya di dalam rumah jadi tidak terlalu kelihatan," katanya.

Dilansir BBC Indonesia, Imlek sudah menjadi hari libur nasional di Indonesia dan perayaan publik menjadi umum di sejumlah kota. Tapi belakangan ada sejumlah organisasi massa yang menolaknya.

Forum Muslim Bogor (FMB) misalnya meminta perayatan Imlek tidak diselenggarakan secara publik di Bogor. Alasannya, mereka menilai Imlek bukan cuma budaya tetapi juga perayaan keagamaan, karena itu tidak pantas bagi Muslim berpartisipasi.

Di Pontianak, suara serupa diungkapkan oleh Pemuda Pancasila (PP) dan Malayan Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM).

Mereka menolak adanya perayaan terbuka karena takut acara itu menjadi ajang kampanye di masa pemilu ini.

Peneliti kemasyarakatan dan kebudayaan Thung Ju-Lan dari LIPI mengatakan sentimen-sentimen ini merupakan dampak dari intoleransi dan narasi politik yang bergulir setelah kasus penistaan agama yang menjerat mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Namun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa kepercayaan orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan tradisi harus dihormati.

Laporan disusun oleh Heather Chen di Singapura dan Christine Franciska, Ayomi Amindoni di Jakarta.(bin)

Ikuti Terus Sumber Informasi Dunia di twitter@bintangnews.com