Breaking News

”Pesan Hamba kepada Sang Raja”


Oleh: T. BINTANG      
Pemred Bintangnews.com  
 
BINTANGNEWS.com – Sudah menjadi lumberah seorang Sodagar kaya (pengusaha) jika mau menghadap Sang Raja ke Istana, untuk menarik perhatian Paduka, pasti akan membawa sesuatu yang paling berharga (Upeti). Soal nilai dan harga tak menjadi masalah bagi mereka (Pengusaha) yang penting bagaimana dapat berkenan di hati Sang Raja.
Padahal dibalik semua itu pasti ada sesuatu yang diharapkan yang lebih berharga dari apa yang mereka berikan, yakni ”kebijakan sang Raja”, maka jangan heran jika kebijakannya sering melahirkan kontroversi ”, tapi itulah budaya Raja yang terjadi sejak lama di lingkungan Istana kerajaan.

Lain halnya dengan Hamba yang hanya seorang putera desa datang ke Istana tentu tidak membawa Emas Intan dan berlian, karena semua itu tidak kami miliki, namun jika yang mulia berkenan, kami datang hanya ingin menyampaikan pesan untuk paduka, melalui karya tulisan ini yang telah kami pelajari sejak puluhan tahun yang lalu.

Walaupun kami hanya seorang putera desa tidak harus minder, karena berdasarkan Undang-Undang RI nomor 9 Tahun I998, tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah, hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 dan deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Juga merupakan perwujudan negara demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat hamba kepada yang mulia, karena kami hanya seorang putera desa yang dibesarkan dari keluarga petani Gandum, namun hal itu tidak mengurangi niat baik kami, karena sebagai warga negara wajib berkontribusi untuk keutuhan suatu bangsa dan negara.

Dengan demikian, ambil lah karya tulisan hamba ini, semoga paduka tidak menganggapnya kami lancang, namun tidak pula tulisan ini dianggap istimewa. Harapan kami kekuasaan ditangan yang mulia agar mencapai kejayaan yang hakiki, mampu membawa nasib rakyat yang lemah menjadi lebih sejahtera dibawah kepemimpinan paduka.

Dengan hati yang tulus hamba sampaikan kepada Sang Raja,” mengingat tidak sedikit seorang penguasa yang terjebak dalam kealfaan akibat orang-orang di sekelilingnya yang Asal Bapak Senang (ABS).

Sedangkan dalam teori managemen politik kepemimpinan yang baik, orang paling pertama yang harus disingkirkan adalah penjilat, karena laporannya tidak pernah obyektif, lepas dari menjerumuskan atau tidak yang pasti penjilat tidak pernah memikirkan nasib pemimpin.

Maka dapat dipastikan, untuk mengukur kecakapan seorang pemimpin, tidak harus memerlukan orang Genius, cukup dilihat dari orang-orang disekelilingnya. Karena orang hanya bisa duduk tenang jika memiliki anak panah dan Busyurnya, jika tidak, biasanya hanya akan menjadi pembual (Pembohong besar). 

Perlu diketahui, bahwa watak penjilat tidak pernah tahu berterimakasih, disaat mendapingi orang sukses, apapun dipertaruhkan, namun giliran pemimpin jatuh, kalau perlu dia sendiri akan ikut balik membunuhnya.

Karena watak penjilat tergantung pada arah dan mata angin yang paling meungkinkan, bahkan sewaktu-waktu bisa berubah 185 derajat, sebab nalar cerdas penjilat biasanya bisa berubah seketika kejam, bisa menjadi licik licin seperti Kancil, ganas garang bagaikan Singa, dengan mulut yang menganga dan taring yang siap terkam, dia bisa rakus haus tak harus melihat siapa mangsanya,” itulah watak Penjilat.

Maka dizaman Nabi sering digambarkan, jika pemimpin murka yang mampu mengalahkannya hanya utusan Tuhan (Allah). Sebut saja murkanya Raja Firaun, pemimpin Mesir yang fenomenal kejamnya (Zalim). Namun yang mampu mengalahkannya adalah, hanya Nabi Mussa, yang ditenggelamkan Tuhan di Laut merah.

Namun dizaman modern, jika pemimpin murka, hanya bisa dikalahkan oleh terakumulasi dengan kesalahannya sendiri yang membuat dirinya jatuh.

Akhirnya, hamba hanya bisa berpesan,” selamat bertugas yang mulia”, semoga Paduka menjadi pemimpin yang amanah, karena do’a rakyat lemah jika dizalimi akan sangat mujarab.

Oleh karenanya, beruntunglah Bagenda Raja kini terpilih menjadi pemimpin, bersyukurlah paduka mendapat tugas yang mulia dipercaya rakyat, karena sangat terlalu sedikit bagi manusia yang terpilih menjadi pemimpin dari jutaan rakyat yang menginginkannya.

Dengan demikian, ingat masa jabatan itu sangat relatif singkat, seakan masih hangat dalam ingatan kalau hari kemarin baru saja dilantik, tapi hari ini masa jabatan Paduka sudah tahun terahkir. 

 Dan ingat pula bahwa jabatan itu adalah amanah rakyat, jangan menjadi penyebab peribadi Paduka buruk karenanya, sebab tidak sedikit para pemimpin dunia kariernya awal bahagia berujung duka, terbukti bagi Raja-raja yang zalim hidupnya berakhir di ”Tiang Gantungan”.***  


Ikuti Terus Sumber Infomasi Dunia di Twitter @bintangnews.com