Breaking News

Demo Mahasiswa UBP Karawang Minta Tuntaskan 9 Pencemaran Lingkungan Hidup

KARAWANG, BINTANGNEWS.com - 
Ratusan mahasiswa menyebutkan Pemda Karawang kalah korporasi.
"Kami mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang tidak diam melihat kondisi lingkungan dan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Karawang akhir-akhir ini.

Kami Aliansi mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang menagih konsistensi atas komitmen yang sudah di bangun bersama dan menyatakan sikap tidak diam dengan membawa 9 tuntutan rakyat hari ini," ungkapnya, rabu (9/10).

Poin pertama dalam sembilan tuntutan para mahasiswa turun ke jalan bahwa Pemda Karawang tidak bisa menyelesaikan masalah terkait tumpahan minyak yang terjadi di laut Karawag sejak bulan juli 2019, setidaknya kurang dari 12 desa yang ada di Karawang  dan Bekasi serta tujuh pulau di Kepulauan Seribu, terkena dampak tumpahan minyak Pertamina. 

Yang mengakibatan kerusakan dan pencemaran lingkungan, seperti rusaknya hutan bakau dan terumbuk karang dan menghambat perekonomian warga sekitar seperti sepinya pengunjung pantai yang dimana para pedagang warung pun menjadi kekurangan pengasilan akhir-akhir ini akibat sepinya pengunjung yang berkunjung ke pantai Karawang dan banyak nelayan dan penambang kehilangan mata pencaharian karena ekosistem terganggu dan lingkungan menjadi tidak sehat dan tercemar.

Kemudian mahasiswa juga menyebutkan belum ada tindakan jelas yang di lakukan pemda Karawang terkait status pegunungan sanggabuana, yang dimana banyak eksploitasi alam di daerah pegunungan sanggabuana, seperti penambangan pabrik kabur yang ada di sekitar pegunungan sanggabuana, yang dimana tidak sesuai dengan amanah UUD 1945 pasal 33 ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk en sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Bukan malah di jadikan alat bagi para kaum kapitalis. Dan banyak dampak yang terjadi akibat penambangan yang di lakukan sejak tahun 2002 lalu.

"Penambangan pabrik yang ada di sekitaran gunung sanggabuana telah merubah bentuk dan ekosistem gunung sanggabuana. Mata air di gunung tersebut telah hilang karena telah habis di tambang, dampaknya sungai cicuban dan sungai cipandangan menjadi kering saat kemarau. Flora dan fauna pun saat ini terancam punah karena sebagian di rambah manusia," ungkapnya.

Terkait penimbunan sampah impor."Kami mahasiswa UBP Karawang menolak kota kami yang dengan julukan Lumbung Padi di jadikan tempat penimbunan sampah Impor yang semakin hari semakin membanyak jumlahnya, karena untuk menyelesaikan sampah domestic saja masih kewalahan dengan overload-nya, di tambah lagi sampah impor yang banyak di temukan atau tercecer di sekitar pemukiman warga tamanmekar dan taman sari Kecamatan Pangkalan," katanya. 

Mendesak pemerintah daerah untuk memaksimalkan pengawasan pengelola limbah B3. Yang dimana dampak limbah pabrik yang di buang mencemari keseimbangan lingkungan sosial masyarakat yang ada di Kabupaten Karawang, Harusnya limbah B3 tidak langsung dibuang melainkan diolah kembali ke perusahaan yang memiliki izin pengolahan. 

Dan mendesak pemda Karawang dan pemprov untuk lebih serius menangani pencemaran di sungai Barugbug Jati Sari dan sungai Karam Gelam, akibatnya air sungai sudah hitam dan tidak bisa lagi di pergunakan untuk kebutuhan hidup warga sekitar. 

Sumber pencemaran itu disinyalir berasal dari pembuangan limbah pabrik-pabrik yang ada di Subang dan Purwakata. serta menolak alih fungsi lahan pertanian dan kawasan Lindung di Karawang dan mendesak pemerintah daerah bertindak tegas terhadap pencemaran, perusakan sumber daya air berkelanjutan."Serta menolak segala bentuk usaha pertambangan di Karawang dan menyegerakan pemda untuk menyusun KLHS," katanya.(bin)