Breaking News

Kang Jimmy: Bulan Ramadhan, Shalat Sunnah Taraweh Harus Patuhi Fatwa MUI

KARAWANG, BINTANGNEWS.com - 
Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad
Zamakhsyari, (Kang Jimmy)," menjelang bulan suci Ramadhan 1414 Hijriah, yang diperkirakan, 1 Ramadhan 1441 Hijriah atau akan jatuh pada tanggal 24 April 2020.

Namun pada bulan suci Ramadhan kali ini, kita akan dihadapkan dengan situasi yang sangat dilenatis.

Disatu sisi bulan suci Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan bagi umat muslim, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang agung yang penuh berkah untuk melaksanakan Ibadah puasa, termasuk shalat sunnah Taraweh berjamaah di Mesjid.  Tapi disisi lain, kita juga hukumnya wajib ikhtiar untuk menghindari dari kuatnya wabah virus corona.

Dengan demikian, solusinya adalah, tetap kita harus mengacu kepada Fatwa MUI.

Menurut Kang Jimmy dalam pantunnya," Jika langit sudah mendung hitam di atas kepala, jangan melarang hujan jatuh turun ke bumi, jika angin kencang sudah menerpa pohon, mejangan larang daon-daon akan berguguran, jika Ramadhan sudah menghampiri kita jangan melarang aku untuk shalat Taraweh.

"Karena, Virus Corona hanya mahluk biasa seperti kita, sedangkan kita mahluk manusia adalah mahluk yang istimewa, karena kita punya tuhan yang bernama Allah Aza Wazala," sambil mengumandangkan kakimat sholawat Nabi," Allah Hummasholli Ala Muhammad, Takbir..." Allahu Akbar.

Namun pendapat Kang Jimmy juga, tampaknya paralel dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nomor 14 Tahun 2020. Untuk menjadi pedoman bagi masyarakat yang akan beribadah disaat bulan suci Ramadan.

Bulan Ramadan bagi umat Muslim wajib menjalankan ibadah puasa, dan boleh menjalankan shalat sunnah Tarawih. 

Namun bagaimana pelaksanaan shalat sunnah Tarawih di tengah adanya pandemi Covid-19?.

"Kini sudah bisa ditemukan jawabannya di dalam fatwa MUI," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Anwar Abbas, yang dilansir dari suara.com, beberapa waktu lalu Jumat (3/4/2020).

Fatwa yang dimaksud ialah yang pernah dikeluarkan MUI pada 16 Maret 2020 dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin AF. Fatwa tersebut mulanya dibuat hanya untuk mengatur hukum salat Jumat di tengah pandemi Covid-19.

Namun, ketentuannya sama dengan shalat sunnah Tarawih yakni sama-sama tidak diperkenankan untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. 

Salah satu contoh ketentuan hukumnya ialah bagi orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.

Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah salat lima waktu/rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

Kemudian bagi orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar Covid-19, harus memperhatikan beberapa hal. Seperti apabila ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan salat duhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah salat lima waktu atau rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Lebih lanjut, dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran Covid-19. Seperti jemaah salat lima waktu/rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

Akan tetapi, apabila dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak. Seperti halnya yang dilansir Galamedianews.com, jamaah salat lima waktu atau rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19.



(bin)